JAKARTA — Indonesia menempati peringkat ke-54 dalam Global Innovation Index (GII) 2025, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Namun di balik capaian itu, muncul catatan penting hasil riset dan inovasi di Indonesia belum sepenuhnya terdiseminasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Hal ini disampaikan oleh Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dalam konferensi pers di Kemdiktisaintek, Kamis (31/7/2025).
“Peringkat ini cukup menggembirakan, tapi kita tidak boleh terbuai. Masih banyak indikator seperti publikasi ilmiah, kolaborasi riset dengan industri, dan ekspor jasa teknologi yang skornya rendah,” ujar Yudi.
Yudi menekankan hasil riset kerap berhenti di ruang-ruang akademik dan belum menyentuh masyarakat. Ini menjadi tantangan utama, karena transformasi sosial dan ekonomi seharusnya didorong oleh pemanfaatan nyata dari pengetahuan dan inovasi.
“Ilmu itu bukan hanya untuk jurnal atau simposium, tapi untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat: kemiskinan, kesehatan, energi, dan lingkungan,” tegasnya.
Yudi juga mengutip hasil riset terbaru yang dimuat dalam jurnal Nature Human Behavior (2025). Dalam studi itu, Indonesia mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap sains sebesar 3,84 dari skala 5, lebih tinggi dari rata-rata global (3,62) dan sejajar dengan Malaysia dan Meksiko.
Namun, ia menegaskan tingginya kepercayaan belum otomatis berarti keterlibatan aktif masyarakat dalam agenda sains atau pengambilan keputusan berbasis bukti.
“Indikator ‘diperhatikan suara publik’ dalam studi itu hanya 3,33. Artinya masyarakat merasa suara mereka belum cukup didengar dalam ranah sains dan teknologi,” jelasnya.
Menurut Yudi, jika kepercayaan tinggi ini tidak ditindaklanjuti dengan transparansi, partisipasi, dan dialog, maka ia bisa berubah menjadi skeptisisme diam-diam, terlebih di tengah gempuran misinformasi.
“Masyarakat ingin sains menjawab keresahan mereka. Jika tidak, mereka bisa diam-diam meninggalkan sains, padahal kepercayaan sudah tinggi. Ini ironi yang harus kita hindari,” pungkasnya. (MK/SB)






