JAKARTA — Dunia industri kini tidak perlu pusing sendiri menghadapi persoalan produksi atau kalah saing dengan barang impor. Melalui program baru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikbudristek) bernama “Ajakan Industri”, setiap perusahaan kini bisa secara resmi dapat “melelang masalahnya” kepada kampus-kampus di seluruh Indonesia dan perguruan tinggi akan berlomba mengajukan solusi berbasis sains dan teknologi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Mohammad Fauzan Adziman, sebagai bentuk terobosan dalam membangun kolaborasi konkret antara dunia akademik dan dunia usaha.
“Industri bisa menyampaikan masalahnya secara terbuka mulai dari produk yang kalah saing, kualitas yang rendah, hingga biaya produksi yang tinggi. Lalu kampus bisa bidding, menawarkan solusi berbasis teknologi yang mereka punya,” kata Fauzan dalam kegiatan Taklimat Media di Gedung Kemdiktisaintek, Kamis (31/7/2025).
Lewat sistem ini, masalah-masalah seperti substitusi material, desain ulang alat produksi, hingga otomatisasi pabrik bisa langsung menjadi bahan penelitian di kampus. Kemdiktisaintek memosisikan diri sebagai jembatan sekaligus wasit antara pelaku industri dan lembaga pendidikan tinggi.
“Kemarin sudah ada sekitar 600 industri yang kita approach sejauh ini. Dan kemarin proposal yang masuk itu ada sekitar 1.200 dari kampus-kampus yang menyatakan bisa menyelesaikan berbagai masalah industri tadi,” sebut Fauzan.
Salah satu kejutan datang dari politeknik. Meski kerap dianggap ‘kelas dua’ dibanding universitas, nyatanya politeknik justru jadi penyumbang solusi praktis paling cepat. Salah satu politeknik disebut berhasil membuat mesin CNC (Computer Numerical Control) buatan sendiri dengan harga lebih murah dan fitur yang justru lebih kompleks — jawaban nyata atas permintaan industri.
“Ternyata politeknik punya alat dan SDM yang mumpuni. Jangan anggap remeh,” tambah Fauzan.
Menariknya, program ini juga memberi kelonggaran bagi industri. Di tahap awal, industri tidak perlu menyetor dana riset. Tapi jika solusi terbukti ampuh, barulah mereka didorong mendanai riset lanjutan secara mandiri.
“Kami tahu industri butuh kepastian. Jadi ibarat belanja, ini boleh dicoba dulu gratis. Kalau cocok, baru ikut membiayai. Ini skema yang win-win,” jelasnya.
Fauzan berharap ke depan, kolaborasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah kecil, tetapi juga mendorong tumbuhnya produk-produk nasional yang lebih kompetitif dan mandiri dari impor.
“Kalau kita serius memanfaatkan SDM kampus yang ada, dari profesor sampai mahasiswa, tak perlu takut bersaing dengan luar negeri. Kampus kita bisa jadi mesin inovasi nasional,” tegasnya. (MK/SB)






