KSTI 2025 Dihadiri Ribuan Ilmuwan, Dorong Kemandirian Industri Nasional

JAKARTA – Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) resmi dibuka sebagai ajang strategis untuk mendorong kontribusi nyata riset terhadap perekonomian dan kemandirian industri nasional. Acara yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini mengumpulkan lebih dari seribu ilmuwan dari berbagai institusi di Indonesia.

Menteri Diktisaintek, Brian Yuliarto, menyampaikan konvensi ini bertujuan untuk memperkuat keterhubungan antara dunia riset dengan dunia industri serta menghasilkan peta jalan riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan bangsa.

“Konvensi ini bukan sekadar kumpul-kumpul ilmuwan. Kita ingin memastikan bahwa riset-riset yang dilakukan bisa menjawab tantangan nyata di sektor industri dan ekonomi. Harapannya, muncul industri-industri baru berbasis hasil riset skala MSL (Medium Scale Level),” ujar Brian dalam konferensi pers di Gedung Sabuga ITB Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/8/2025).

Konvensi tahun ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 ilmuwan dari berbagai latar belakang. Tercatat 461 peneliti dari kalangan ekonomi, ratusan peneliti umum dari program Inovasi Indonesia, serta 351 peserta dari ITBS dan RIT. Selain itu, hadir pula sejumlah guru, dokter, dan pendidik sekolah menengah.

Dalam sambutannya, Presiden RI Prabowo Subianto yang hadir langsung untuk membuka acara, menyampaikan Indonesia memiliki tantangan besar dalam membangun masa depan berbasis inovasi. Untuk itu, penguasaan sains dan lahirnya sumber daya manusia unggul menjadi kunci penting.

“Presiden menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia yang besar tidak cukup bila tidak didukung oleh penguasaan teknologi dan kemampuan memproduksi. Kita harus mampu membangun industri kendaraan listrik, elektronika, dan semikonduktor sendiri,” kata Brian mengutip pidato Presiden.

Salah satu inovasi yang ditampilkan dalam KSTI adalah hasil riset dari ITB yang berhasil mengolah limbah kelapa sawit menjadi bahan bakar bensin. Brian menyebut, ada lebih dari 400 hasil riset yang dipamerkan dalam forum ini, dan semuanya diarahkan untuk dikoneksikan langsung dengan pelaku industri.

Kegiatan utama dalam konvensi ini meliputi penyusunan peta jalan riset dan teknologi nasional, penguatan ekosistem inovasi antara ilmuwan, industri, dan pembuat kebijakan, serta pertunjukan hasil riset unggulan yang berpotensi dikembangkan ke skala industri.

“Presiden secara langsung meminta agar para ilmuwan tidak berhenti pada laboratorium. Mari kita bahu-membahu menghadirkan karya nyata yang bisa membangun industri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Brian. (MK/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER