Perkuat Swasembada Pangan di Bali Dengan Electrifying Agriculture

BALI – Guna memperkuat swasembada pangan di Bali, khususnya Desa Petang Kabupaten Badung, dan Desa Penebel Kabupaten Tabanan, PLN membuat program Electrifying Agriculture di sektor penggilingan padi.

Manager PLN UP3 Bali Selatan, I Putu Kariana, di Denpasar, Rabu (20/8/2025) menegaskan, program ini menjadi bukti nyata bahwa listrik tidak hanya berfungsi sebagai penerang, tetapi juga menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan nasional.

“Electrifying Agriculture merupakan salah satu program transformasi PLN yang mendorong pemanfaatan energi listrik andal untuk mengoperasikan mesin dan peralatan pertanian. Dengan mengurangi ketergantungan pada mesin berbahan bakar fosil, petani mendapatkan keuntungan ganda. Kemudian, biaya operasional lebih hemat dan hasil produksi meningkat,” katanya.

Dia menjelaskan, Electrifying Agriculture adalah langkah nyata PLN dalam menghadirkan listrik andal bagi pertanian yang lebih maju, produktif, dan efisien. Terutama, sektor pertanian sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan nasional.

“Pertanian adalah jantung ketahanan pangan. Jika petani kuat, maka bangsa ini juga kuat. Kami berharap semakin banyak kelompok tani yang memanfaatkan listrik untuk kegiatan pertanian, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas, tidak hanya di Bali Selatan tetapi juga di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Electrifying Agriculture bukan sekadar upaya mengganti mesin berbahan bakar fosil dengan listrik. Lebih dari itu, program ini menghadirkan perubahan sistematis pada cara kerja pertanian. Dengan listrik, petani bisa mengoperasikan mesin penggilingan padi, irigasi, hingga penyimpanan hasil panen dengan lebih andal. Dampaknya tidak hanya pada efisiensi biaya, tetapi juga mendukung agenda besar transisi energi bersih yang tengah digencarkan pemerintah.

Selain mengurangi emisi karbon, elektrifikasi pertanian juga meningkatkan daya saing produk lokal. Hasil panen yang diolah dengan mesin listrik lebih cepat dipasarkan, kualitasnya lebih terjaga, dan mampu mendukung swasembada pangan di tingkat nasional.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Petang, Ngurah Santa, mengaku tambahan daya listrik dari 66 kVA menjadi 105 kVA telah membawa perubahan besar. “Dengan tambahan daya ini, hasil gilingan kami meningkat dari 1,8 ton menjadi 3 ton per hari, atau naik sekitar 40%. Kami sangat berterima kasih kepada PLN, karena permintaan tambahan daya kelompok tani kami bisa diselesaikan hanya dalam tiga hari, sangat cepat dan memuaskan,” ujar Ngurah penuh semangat.

Sementara itu, pemilik penggilingan padi di Banjar Riang Tengah, Penebel, I Wayan Tirta Yasa, menekankan manfaat besar elektrifikasi dalam mendukung usahanya.

“Dengan tambahan daya 66 kVA, kami tidak perlu lagi mengandalkan mesin diesel yang mahal. PLN hadir cepat, tanggap, dan membantu petani seperti kami menjadi lebih efisien dan hasil panen bisa diproses dengan lebih maksimal,” jelas Wayan. (WIR)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER