KLUNGKUNG – Momen tak biasa terlihat di stan pameran Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Klungkung di area Festival Literasi dan Pendidikan Klungkung 2026. Gde Santika Yasa, penyandang tunanetra sekaligus guru SLB Negeri 1 Klungkung, tampak antusias memperagakan cara membaca huruf timbul (braille) kepada Bupati Klungkung I Made Satria.
Stand Pertuni Klungkung menjadi lokasi pertama yang dikunjungi Bupati Satria bersama Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra dan rombongan pejabat Pemkab Klungkung. Yasa pun menyambut Satria dengan menunjukkan buku khusus tunanetra.
“Pak Bupati, kami memiliki buku ini. Ini buku khusus tunanetra. Isinya tentang aneka makanan. Dibaca dengan diraba,” kata Yasa di Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe, Semarapura, Klungkung, Sabtu (6/6/2026) malam.
Satria lantas merespons dengan wajah kagum. Orang nomor satu di Klungkung itu kemudian bertanya bagaimana Yasa dan penyandang tunanetra lainnya membaca braile. Yasa pun mempraktikkan cara meraba huruf braile.
“Begini pak. Kami merabanya. Jadi titik-titik ini seperti sandi morse,” tutur Yasa dibalas anggukan kepala Satria.
Tak hanya itu, Yasa kemudian memberikan selembar kertas berisi huruf braile khusus untuk Bupati Satria. Tulisan itu berbunyi: ‘Pak Bupati Klungkung I Made Satria membuka Festival Literasi dan Pendidikan’. Sontak, Satria terlihat senang sekaligus kagum menerima lembaran itu.
Yasa lalu mengatakan Bupati Satria bisa belajar menulis braile. Sementara itu, Wabup Tjokorda Surya menimpali sambil bercanda, “Nanti belajar Sabtu Minggu pak. Dua kali seminggu.”
Satria mengangguk sembari tersenyum. Ia lalu melontarkan candaan yang membuat semua orang di stan tertawa.
“Ya, belajar braile ini, berarti saya harus buta dulu,” katanya disambut tawa semua orang di stan itu. Candaan itu membuat suasana semakin cair.
Sebelum beranjak, Bupati Satria juga diperlihatkan hasil karya tunanetra Klungkung. Termasuk parfum berhuruf braile. Satria juga membeli dupa dan memberi semangat untuk Pertuni Klungkung.
Berharap Disabilitas Lebih Diterima
Yasa mengaku sudah menyiapkan diri saat menyapa Bupati Satria dan pejabat Pemkab Klungkung dalam kegiatan tersebut. Lulusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang yang aktif sebagai dewan pengawas Pertuni Klungkung itu berharap para penyandang disabilitas lebih diterima masyarakat.
“Harapan saya tidak muluk-muluk. Semoga keberadaan kami penyandang disabilitas diakui masyarakat. Karena masih banyak masyarakat di Klungkung yang meremehkan. Disabilitas tidak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa merepotkan. Padahal buktinya kami bisa melakukan banyak hal,” ujar Yasa.
Yasa ingin masyarakat lebih memahami perjuangan kaum difabel sehari-hari. Menurutnya, para difabel kini bisa hidup lebih mandiri seiring perkembangan teknologi. Misalkan membaca berita dengan fitur mode suara hingga membedakan uang dengan bantuan aplikasi.
“Jadi, apa-apa sekarang mudah bagi kami dengan kemajuan teknologi,” imbuh Yasa sembari mencontohkan cara membaca mata uang lewat gawainya. (DTB/SB)






