KLUNGKUNG – Pementasan Tari Widya Mahottama massal oleh ratusan siswi SMP hingga SMA se-Kabupaten Klungkung menjadi pembuka Festival Literasi dan Pendidikan Klungkung 2026. Festival tersebut akan berlangsung selama tiga hari, dari 6-8 Juni 2026.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Klungkung I Ketut Sujana menerangkan Festival Literasi dan Pendidikan ini bertujuan untuk menggalakkan budaya gemar membaca. Menurutnya, festival ini melibatkan siswa dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK.
“Gemar membaca adalah salah satu karakter yang kita harapkan dapat tumbuh pada seluruh kalangan masyarakat, utamanya generasi muda dari jenjang PAUD sampai jenjang perguruan tinggi,” ujar Sujana saat pembukaan Festival Literasi dan Pendidikan Klungkung di Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe, Semarapura, Sabtu (6/6/2026).
Sujana membeberkan festival juga dirangkai dengan berbagai kegiatan. Termasuk lomba drumband dan Tari Puspanjali untuk siswa PAUD, parade baleganjur oleh siswa SD, hingga pentas bintang siswa untuk pelajar SMP, SMA, dan SMK.
Ada pula lomba bertutur, talksow literasi budaya, talksow literasi keuangan dan kewirausahaan, bedah buku, lomba video, pameran hasil pendidikan, hingga jalan sehat. Tak ketinggalan penampilan dari para pemenang lomba karaoke PGRI serta hiburan dari artis Bali.
Bupati Klungkung I Made Satria juga menyerahkan penghargaan kepada tokoh dan lembaga yang peduli serta berkontribusi memajukan pendidikan di Gumi Serombotan. Satria menegaskan pentingnya meningkatkan literasi dan karakter siswa.
“Untuk meningkatkan tingkat kegemaran membaca dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), maka diperlukan upaya lebih untuk dapat terus ditingkatkan. Karena minat baca merupakan faktor penting dalam membentuk karakter seseorang,” ujar Satria.
“Anak yang gemar membaca cenderung memiliki minat belajar yang tinggi, kemampuan beradaptasi dan daya mental yang lebih kuat, cenderung lebih kreatif, empati dan memiliki rasa tahu yang lebih besar,” imbuhnya.
Satria menyoroti tantangan pendidikan saat ini berkaitan dengan adaptasi sistem pengajaran agar relevan dengan pesatnya perkembangan akal imitasi (AI). Menurutnya, diperlukan transformasi peran guru dari sekedar penyampai informasi menjadi fasilitator dan pembangun karakter siswa.
“Karakter positif yang dilahirkan dari budaya membaca adalah kunci keberhasilan dan kunci untuk mencapai tujuan hidup,” pungkasnya. (DTB/SB)






