NUSANTARA – Bank Indonesia (BI) Nusantara mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk meninggalkan sistem pencatatan keuangan manual dan beralih ke pencatatan digital melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK).
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat tata kelola usaha sekaligus membuka peluang akses pembiayaan yang lebih luas dari lembaga perbankan.
Kepala Sekretariat Kerja Bersama (SKB) KOPERBI IKN, Aura Pandu Wirawan, mengungkapkan sebagian besar pelaku UMKM masih melakukan pencatatan keuangan secara sederhana dan manual. Kondisi itu kerap menyebabkan arus kas usaha tidak terdokumentasi dengan baik sehingga menyulitkan pelaku usaha saat membutuhkan tambahan modal.
“Selama ini masih banyak pelaku usaha yang melakukan pencatatan secara manual. Melalui SIAPIK, UMKM dapat mencatat biaya, pemasukan, keuntungan, dan perkembangan usaha secara lebih terstruktur. Catatan keuangan yang baik juga akan membantu ketika mengajukan pembiayaan ke perbankan,” ungkap Kepala Sekretariat Kerja Bersama (SKB) KOPERBI IKN, Aura Pandu Wirawan, di IKN, Selasa (10/6/2026).
Dijelaskan, sering peekembangan pembangunan IKN, fondasi ekonomi harus benar-benar kuat. Terlebih bagi masyarakat sekitarnya yang menjadi penyangga.
“Jadi harus dibentuk yang kuat melalui pemberdayaan masyarakat dan penguatan UMKM sebagai penggerak utama ekonomi lokal. Caranya dengan banyak hal, termasuk memperbaiki pencatatan keuangan usaha. Dilatih. Juga akses pembiayaan ke Perbankan,” jelasnya.
Reni Sayu, salah satu pelaku usaha Keripik Pisang asal Kabupaten Penajam Paser Utara. Usai menyimak penjelasan, SIAPIK dirasakan dapat membantu pelaku usaha beralih dari pencatatan keuangan manual menuju sistem digital yang lebih tertata.
“Selama ini pencatatan keuangan saya masih manual dan kadang ada transaksi yang tidak tercatat. Bahkan modal usaha terkadang tercampur dengan kebutuhan pribadi. Melalui kegiatan ini kami belajar bagaimana mengelola keuangan usaha secara lebih baik dan modern menggunakan aplikasi digital,” ujarnya di lokasi.
Reni tak menampik, kehadiran IKN membuka peluang besar bagi UMKM lokal untuk berkembang seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk di kawasan tersebut.
“Peluangnya sangat besar. IKN sekarang menjadi salah satu tujuan kunjungan masyarakat dan banyak pendatang baru yang datang ke sini. Kalau UMKM bisa masuk dan berjualan di kawasan ini, peluang berkembangnya juga semakin besar,” terangnya.
Ia berharap program pendampingan dan akses pembiayaan bagi UMKM dapat terus berlanjut sehingga pelaku usaha memperoleh pembinaan yang berkesinambungan hingga mampu tumbuh mandiri secara finansial.
Reni termasuk satu dari sekian banyak pelaku UMKM yang mengikuti workshop Business Matching Pembiayaan UMKM 2026, serta sosialisasi SIAPIK, kemarin (10/6/2026) Kemenko 4, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN oleh BI Nusantara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Otorita IKN.
Dalam kesempatan itu, peserta yang menunjukkan perkembangan maupun potensi usaha akan memiliki kesempatan mengikuti program pembinaan lanjutan, termasuk fasilitasi akses pasar melalui berbagai kegiatan promosi dan pameran seperti Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) hingga Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF). (MK/SB)






