Senin, Juni 17, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kemenag Tegur Garuda Indonesia, Hampir 50 Persen Penerbangan Haji Terlambat 

JAKARTA – Juru Bicara Kementerian Agama (Kemenag) Anna Hasbie menyayangkan tingginya angka keterlambatan penerbangan pada pekan pertama, terutama oleh maskapai Garuda Indonesia.

Berdasar hasil evaluasi Kemenag, hingga Senin (20/5) kemarin, sudah ada 152 kloter yang diterbangkan ke Tanah Suci. “Satu pekan pertama, persentase keterlambatan keberangkatan pesawat Garuda Indonesia sangat tinggi, mencapai 47,5 persen,” terang Anna di Jakarta seperti dilansir dari Jawa Pos, Selasa (21/5/2024).

Jika diperinci, dari 80 penerbangan, 38 pesawat mengalami keterlambatan. Bahkan, ada keterlambatan sampai 3 jam 50 menit. Jika ditotal, keterlambatan itu mencapai 32 jam 24 menit.

“Ini tentu sangat disayangkan. Kita sudah memberikan teguran tertulis agar ke depan diperbaiki,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Indonesia tahun ini mendapat kuota 241.000 jemaah. Terdiri atas 213.320 jemaah haji reguler dan 27.680 jemaah haji khusus. Jemaah haji reguler diterbangkan dengan dua maskapai, Garuda Indonesia dan Saudia Airlines. Maskapai pertama akan memberangkatkan 109.072 jemaah yang tergabung dalam 294 kloter. Sisanya, 260 kloter, diterbangkan dengan Saudia Airlines.

“Saudia Airlines dalam sepekan ini mengalami keterlambatan pemberangkatan hingga 18,06 persen dari total 72 penerbangan. Total keterlambatan mencapai 4 jam 7 menit. Saya harap peristiwa keterlambatan bisa terus ditekan,” sebut Anna.

Selain soal keterlambatan penerbangan, ada 60 kloter yang terancam melakoni penerbangan tidak sesuai dengan penetapan rute. Mereka seharusnya kembali ke tanah air dari Bandara Jeddah. Namun, mereka kini harus naik pesawat dari Bandara Madinah. Hal itu memicu kekhawatiran jemaah akan mengalami kelelahan. Sebab, mereka harus menempuh perjalanan delapan jam ke Madinah.

Kloter penerbangan haji yang tidak sesuai dengan rute tersebut terungkap dalam rapat Komisi VIII DPR dengan Kemenag, Kemenhub, Garuda Indonesia, dan Saudia Airlines di Jakarta kemarin.

Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi memberikan contoh, di embarkasi Solo ada 35 kloter yang berangkat lewat Madinah, tetapi nanti pulangnya lewat Madinah juga. ’’Biasanya kan kalau berangkat dari Madinah, pulangnya lewat Jeddah,’’ katanya.

Menurut Ashabul, rute penerbangan jemaah haji yang tidak sesuai dengan rencana tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif. Misalnya, harus keluar biaya untuk sewa hotel di Madinah. Kemudian, jemaah juga harus melakoni perjalanan panjang sekitar delapan jam dari Makkah ke Madinah.

Perjalanan yang cukup lama itu dilakukan ketika jemaah baru saja melakoni puncak ibadah haji. Selain itu, perubahan rute tersebut otomatis berdampak pada biaya sewa bus. Panitia haji wajib menyiapkan bus antarkota yang membawa jemaah dari Makkah menuju Madinah.

Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra memberikan penjelasan mengenai penerbangan haji yang tidak sesuai dengan rute tersebut. “Masih ada 60 slot pemulangan yang tidak sesuai dengan rencana awal kita,” katanya.

Menurut Irfan, pengaturan slot tersebut menjadi kewenangan General Authority Civil Aviation (GACA) Arab Saudi.

Irfan mengatakan, ada kloter penerbangan yang seharusnya pulang dari Jeddah, tetapi mendapatkan slot penerbangan di Madinah. Dia menegaskan, Garuda Indonesia akan bertanggung jawab terkait munculnya segala biaya dari perubahan tersebut. Mulai penyiapan bus sampai akomodasi di Madinah.  (JP/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER