Senin, Juli 22, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pemkot Denpasar Fasilitasi Generasi Muda Berkreativitas Seni Ogoh-Ogoh

DENPASAR – Pemkot Denpasar, Bali, melalui sinergitas bersama Pasikian Yowana MDA Kota Denpasar dan “Sing Main-Main” Official, untuk menggelar Kesanga Festival Tahun 2023.

“Kegiatan ini, sebagai wadah kreatifitas anak muda Denpasar di bidang seni Ogoh-ogoh,” kata Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dan Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa saat menjadi narasumber pada Talkshow bertajuk ‘Berkarya Asik Dengan Non Organik’ serangkaian Kesanga Fest di Selasar Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya Denpasar, Minggu, (29/1).

Selain itu, kegiatan yang di hosting langsung Go Andik bersama Agung Suyoga dan dihadiri seluruh perwakilan STT se-Kota Denpasar ini turut mengundang narasumber yang ahli di bidangnya.

Mulai dari I Nyoman Gede Sentana Putra atau yang akrab disapa Kedux, Gusman Surya, I Gede Anom Ranuara atau yang akrab disapa Guru Anom, dan Direktur Operasional Bali CMPP, Andrean Raditha. Tampak hadir pula Ketua MDA Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, kadis Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Puwantara dan Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, AA Angga Harta Yana.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara yang didampingi Wawali Arya Wibawa mengatakan, pelaksanaan Kesanga Festival ini merupakan sebuah event untuk mewadahi kreatifitas anak muda Denpasar di bidang seni ogoh-ogoh. Hal ini juga menambah panjang daftar event yang bisa menjadi rujukan masyarakat Kota Denpasar.

‘Setelah ada Denfest dan D’Youth Fest, kini kita menggagas Kesanga Fest, tujuannya jelas, untuk mewadahi kreatifitas anak muda di bidang seni ogoh-ogoh menjelang Nyepi, bahkan untuk mendukung kreatifitas STT di Kota Denpasar, Pemkot telah mengucurkan Dana BKK yang besarnya Rp. 10 Juta per STT, dan akan berlanjut setiap tahunnya,” ujarnya

Lebih lanjut dijelaskan, secara tradisi, ogoh-ogoh merupakan sebuah sarana untuk nyomya Bhuta Kala saat Tilem Kesanga atau yang lebih dikenal dengan Malam Pangerupukan. Pun demikian, kini dikemas lebih menarik, sehingga selain untuk tradisi, juga memberikan ruang secara kreatifitas dan ekonomi.

“Nanti kita pusatkan di Kawasan Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, ada Lomba Sketsa Ogoh-ogoh, ada Lomba Ogoh-ogoh mini, dan Parade Ogoh-ogoh hasil seleksi per kecamatan, dan tentunya ada stand UMKM dan Ekraf, selain itu kita buka juga para sekehe teruna untuk mengisi stand ekraf lewat merchandise nya,” ujarnya.

“Dan setelah pelaksanaan festival selesai, ogoh-ogoh dikembalikan ke masing-masing Desa Adat untuk mengikuti prosesi sesuai dengan Desa, Kala Patra setempat, nanti konsepnya antara tradisi dan kreatifitas sama-sama jalan, intinyas kreatifitas harus terus tumbuh dan berkembang,” imbuhnya.

Salah satu Narasumber, I Gede Anom Ranuara mengatakan, jika dilihat dari sejarahnya, ogoh-ogoh berkaitan dengan budaya subak atau pertanian di Bali. Dimana, dengan perjalanan waktu, keberadaan ogoh-ogoh terus berkembang. Jika dilihat dari filosofi agama, ogoh-ogoh tertuang dalam tutur rare angon.

Dikatakan Anom Ranuara, saat ini Kota Denpasar tetap konsisten dalam memberikan kreatifitas terhadap seni ogoh-ogoh. Hal ini utamanya fungsi ogoh-ogoh sebagai pengiring upacara keagamaan yang mengutamakan estetika.

“Kita tetap konsekuen pada filosofi agama dengan mengutamakan estetika. Dan yang saat ini terus berkembang adalah kreatifitas dan inovasi dari para undagi yang dalam hal ini adalah sekehe teruna,” jelasnya.

“Ke depan Kesanga Fest terus tumbuh dan berkembang menjadi suatu ajang untuk kreatifitas tanpa batas Yowana Kota Denpasar yang bernafaskan Vasudhaiwa Kutumbakam, yang juga memberikan ruang terhadap pengembangan UMKM dan Ekraf,” ujar Anom Ranuara. (WIR)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER