Sabtu, Juli 20, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Polda Bali Diduga Salah Tangkap Buronan Interpol

DENPASAR – Polda Bali diduga melakukan kesalahan dalam menangkap buronan International Police (Interpol) asal Kanada bernama Stephane Gangnon (50). Tim kuasa hukum menyebut buronan interpol yang dimaksud bukan orang yang kini ditahan Polda Bali.

“Ini diduga salah tangkap. Kami menduga ini bukan dia,” kata Kuasa Hukum Stephane Gangnon, Parhur Dalimunthe kepada wartawan di Polda Bali, Minggu (4/6/2023).

Parhur menjelaskan, tim hukum bule Belanda itu menemukan sejumlah kejanggalan sehingga menduga Polda Bali salah tangkap. Kejanggalan itu mulai dari foto, nomor paspor, hingga status perkawinan Stephane Gangnon.

“Tapi yang paling signifikan adalah nomor paspor. Dia nggak pernah pakai nomor paspor itu,” jelas Parhur.

Parhur menjelaskan kliennya ditangkap di rumahnya di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Menurutnya, petugas sempat menyita sejumlah dokumen dan menahan Stephane Gangnon.

Pahrur meragukan validitas dokumen red notice yang menjadi dasar polisi menahan kliennya itu. Sebab, nama orang yang masuk dalam red notice umumnya tercantum di website karena dicari di seluruh dunia. Ia menyebut nama Stephane Gangnon tidak tercantum dalam website.

Selain itu, Pahrur mengatakan red notice yang dia ragukan validitasnya itu tertulis bahwa subjek tidak untuk menahan sementara. “Jadi red notice-nya bilang bukan untuk sementara, ini (surat dari Polda Bali) penahanan sementara,” ujar Parhur.

Kejanggalan selanjutnya, kata dia, adalah nomor paspor WN Kanada yang saat ini ditangkap Polda Bali berbeda dengan data dalam red notice. Dalam red notice disebutkan bahwa nomor paspor buronan yang dicari bernomor G8**. Sementara WN Kanada yang kini ditahan memiliki nomor paspor AA**.

Begitu pula dengan status perkawinan Stephane Gangnon yang menurut Pahrur berbeda dengan yang tercantum pada red notice. Data red notice menyebut bahwa pemilik paspor G8** berstatus menikah. Sementara, WN Kanada yang kini ditangkap AA*** berstatus cerai. “Jadi kami menduga ini bukan dia,” tegas Parhur.

“Nama (dan) tanggal lahir (di data red notice) sama. Tapi kan itu apalagi dia pengusaha bisa di Googling di mana pun. Cuma nomor paspor yang sifatnya rahasia itu salah. Dia enggak pernah menggunakan nomor paspor ini. Sebelumnya juga nggak pernah,” tambahnya.

Tim hukum juga menemukan kejanggalan dalam foto Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) dengan red notice yang dikeluarkan. Foto keduanya justru sama. Padahal, dua dokumen itu diterbitkan oleh negara yang berbeda.

“Ini fotonya mirip (dengan) foto KITAS-nya. Padahal (KITAS) ini buatan Indonesia, ini (red notice) harusnya dari pemerintah Kanada. Menurut kami (fotonya) sama, harusnya beda. Ini (foto KITAS) diambil di Indonesia dan dia ninggalin Kanada sejak 2018,” terang Parhur.

Selain mengeklaim kejanggalan dari segi dokumen tersebut, kuasa hukum juga menilai ada kejanggalan dalam penanganan polisi. Kejanggalan pertama dilihat dari laporan polisi model A atau LP/A.

“Kalau di polisi kita LP/A itu adalah polisi menyaksikan langsung tindak pidana, baru disebut LP/A. Ini tindak pidana yang mana dilihat polisi ngelaporin ini, kan nggak ada,” ungkap Parhur.

Parhur juga menilai penerbitan surat perintah penyidikan janggal lantaran terbit pada hari yang sama. Menurutnya, proses seharusnya melalui penyelidikan terlebih dahulu. Penetapan seseorang menjadi tersangka pun, kata dia, memakan waktu lama karena harus ada LP, penyelidikan, penyidikan, kemudian pemeriksaan dan penyitaan bukti-bukti.

“Ini enggak (ada). Dan di dalam surat perintah penahanan penangkapan itu tidak ada kronologis, tidak ada pasal yang dilanggar dan tidak ada perbuatannya kapan, enggak jelas,” tegas Parhur.

Media ini masih mencoba mengonfirmasi Polda Bali terkait kejanggalan-kejanggalan yang disebutkan oleh tim hukum Stephane Gagnon. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan dari Polda Bali.

Sebelumnya, Polda Bali menangkap Stephane Gagnon di Villa Aman, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, pada Jumat (19/5/2023). Polda Bali menyebut pria Kanada berusia 50 tahun itu sebagai buronan Interpol.

“Subjek merupakan buronan pemerintah Kanada karena diduga melakukan tindak pidana penipuan dan pemalsuan di Kanada,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, Sabtu (20/5/2023).

Penangkapan terhadap warga negara asing (WNA) itu dilakukan berdasarkan red notice control Nomor A-6452/8-2022 tertanggal 5 Agustus 2022 dan Surat dari Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Nomor R/347/V/HUM.4.4.9/2023/Divhubinter tertanggal 19 Mei 2023. (iws/gsp/dtc)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER