Sabtu, Juli 13, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Seminar GBI Bali NTB Bahas Etika Pelayanan Mimbar dan Hukum di Denpasar

DENPASAR – Badan Pengurus Daerah (BPD) Gereja Bethel Indonesia (GBI) Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar seminar dengan tema Aspek Hukum Etika Pelayanan Mimbar. Tujuannya untuk memberikan pencerahan kepada para Hamba Tuhan dan Pendeta dalam berkhotbah tentang Injil di mimbar maupun di media sosial, tanpa harus menyinggung perasaan umat beragama lain.

Acara tersebut dihadiri dua narasumber, yaitu praktisi hukum ahli pidana Dr. Albert Aries, S.H., M.H., dan Fredrik J. Pinakunary, S.H., S.E., dari FJP Law Office, serta Ketua BPD Bali & NTB, tamu undangan, PPHKI Chapter Denpasar, dan 50 peserta. Acara dipandu Dr. Lukas Banu, S.H., M.H., sebagai moderator pada Jumat (14/06).

Diawali dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ketua BPD Bali & NTB, dalam sambutannya, ia berpesan agar Tuhan memberkati kita semua untuk mempersiapkan pelayanan ke depan. Acara berlangsung di GBI Rock Kuta, Jl. Nakula No. 77, Legian, Denpasar.

“Terima kasih kepada narasumber atas pencerahan hukumnya dan peserta yang datang dari berbagai latar belakang. Semoga menjadi berkat bagi sesama umat dan sesama pemeluk agama. Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi antara PPHKI, Rock Legal Ministry, serta GBI,” terang Pendeta Jehezkiel Kiuk.

Ia juga berharap bahwa dalam seminar pagi ini, peserta yang hadir secara langsung bisa meminimalisir perkataan yang dapat merusak keberagaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita sudah dicerahkan dalam perkataan, pemberitaan, dan bermasyarakat dalam bersosialisasi, lebih banyak lagi untuk menyebarkan dan menebarkan kedamaian dalam keragaman. Untuk hal sensitif dan menyinggung yang bisa berhadapan dengan hukum, mari kita sadari bersama untuk bisa menahan diri,” tambahnya.

Dalam seminar tersebut tidak hanya membahas tentang memberitakan kebenaran tanpa melawan hukum, tetapi juga mengupas KUHP baru dalam perspektif orang percaya. Dalam acara tersebut, anggota DPRD Kota Denpasar terpilih tahun 2024 mengatakan bahwa acara serupa sebaiknya lebih masif lagi dilakukan.

“Sangat bagus dan baik untuk membedah KUHP kita yang baru, yang akan berlaku secara komprehensif. Masih banyak salah tafsir dari masyarakat yang awam hukum. Mungkin nanti bisa diadakan dari level kabupaten, kota, desa sampai RT & RW, karena tidak menutup kemungkinan pengetahuan terkait ini bisa digali lagi lebih dalam agar berkesesuaian dengan kehidupan masyarakat dan cita-cita KUHP ini sendiri,” beber Yonathan Andre Baskoro.

Salah satu peserta, mahasiswi dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Kingdom Lembah Pujian, mengatakan bahwa kita harus fokus membicarakan Injil dari kepercayaan orang Kristen saja di mimbar, bukan membicarakan kepercayaan agama lain.

“Khusus untuk murid STT, karena nantinya akan lebih banyak bekerja di atas mimbar dan itu adalah panggilan serta jenjang karir kami. Apa yang dikatakan para ahli hukum tersebut sangat menambah wawasan, bahwa ketika berbicara harusnya lebih fokus untuk membicarakan Injil dari kepercayaan orang Kristen saja. Sangat bermanfaat,” ungkap Rekah Putri.

Sebelum acara berakhir, para narasumber memberikan closing statement. Pimpinan FJP Law Office mengatakan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, semua pihak bisa menyikapi persoalan hukum secara progresif dan mau berdiskusi berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

“Pertama, saya mengapresiasi panitia, rekan yang sudah hadir, dan bapak gembala yang mau mengajak kami untuk berdiskusi tentang hal yang penting ini. Sehingga kita tidak merespon itu semata-mata berdasarkan logika atau pengalaman kita sebagai advokat, tetapi berdasarkan Roh Kudus yang ada dalam diri kita. Terima kasih, hal seperti ini perlu dicontoh oleh daerah lain,” terang Fredrik J. Pinakunary, S.H., S.E.

Menurut tenaga ahli dan tim penyusun Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru dan juga dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti, gereja bisa menjadi jawaban untuk jemaat yang membutuhkan, bukan hanya sebagai aspek rohani tetapi juga menjadi aspek hukum.

“Tidak semua orang bisa terpanggil menjadi lawyer atau pelayan hukum untuk masyarakat dan terpanggil dalam kegiatan pelayanan Kudus. Kami memohon doa agar kami bisa menjaga integritas, kebenaran Firman Tuhan, dan menjaga Roh Kudus di dalam masing-masing diri kami. Kita semua perlu bersinergi sehingga kami tetap bisa menjadi garam dan terang,” tutup Dr. Albert Aries, S.H., M.H.

Acara yang berlangsung selama tiga setengah jam tersebut ditutup dengan tanya jawab peserta kepada narasumber, lalu diakhiri dengan sesi foto bersama.

Pewarta: Artana Wayan
Editor: Agus S

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER