NUSANTARA – Pembangunan infrastruktur konservasi air di Ibu Kota Nusantara (IKN) terus dipercepat. Pemerintah menargetkan kawasan ini akan memiliki total 60 embung, yang dirancang untuk mendukung konsep smart forest city dan sponge city, sekaligus mempertahankan 70 persen area hijau dari total wilayah Nusantara.
Sepanjang 2022–2024, sebanyak 30 embung telah selesai dibangun di kawasan IKN. Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memastikan pembangunan akan berlanjut dengan tambahan 24 embung baru yang tersebar di kawasan 1B dan 1C.
“Kita sudah bangun 30 embung. Ini kita mau bangun lagi sekitar 24 embung lagi di kawasan 1B dan 1C,” ujar Basuki dalam beberapa kesempatan di KIPP.
Ia menjelaskan bahwa 24 embung baru tersebut akan menambah kapasitas simpan air sekitar 2 juta meter kubik atau setara 2 miliar liter, melengkapi kapasitas yang sudah tersedia dari embung-embung sebelumnya.
Pembangunan tahap baru ini ditarget rampung sebelum tahun 2028. Salah satu proyek yang sudah masuk tahap kontrak adalah pembangunan Embung KIPP 1B dengan nilai Rp323,2 miliar, yang dikerjakan oleh PT Bumi Karsa, perusahaan konstruksi asal Makassar.
Selain sebagai badan air, embung memainkan peran strategis dalam menopang konsep Zero Delta Q—prinsip utama dari pembangunan Nusantara sebagai Sponge City. Embung dirancang untuk menahan, menyerap, dan mengendalikan aliran air permukaan, sehingga dapat meminimalkan risiko banjir, mengurangi limpasan berlebih, serta menjaga stabilitas hidrologis kawasan.
Fungsi konservasi air ini juga diperkuat dengan peran embung sebagai penyedia air baku untuk kebutuhan non-air minum, sekaligus memperindah lanskap Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Dengan progres pembangunan saat ini, total embung yang sudah terbangun maupun yang segera dikerjakan mencapai 54 unit. Infrastruktur ini diyakini menjadi tulang punggung ketahanan ekologis IKN, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan dinamika lingkungan di masa mendatang. (MK/SB)






