JAKARTA — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menilai energi panas bumi (geotermal) sebagai sumber energi terbarukan paling stabil dibandingkan energi surya dan angin yang bergantung pada kondisi cuaca.
Dalam acara Halal Bihalal Kemdiktisaintek di Jakarta, Senin (6/4/2026), Stella mengatakan tren global saat ini mulai mengarah pada pengembangan geotermal secara besar-besaran (scale up), terutama untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang terus meningkat.
“Solar dan wind power sangat tergantung cuaca, sementara geothermal adalah yang paling konsisten. Ini menjadi perhatian global, termasuk di Amerika Serikat, karena kebutuhan listrik untuk data center sangat besar dan harus bersih serta stabil,” ujarnya.
Meski memiliki potensi besar, Stella mengungkapkan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia masih terbatas, yakni baru sekitar 10 persen dari total potensi yang ada.
Ia menjelaskan, salah satu kendala utama pengembangan geotermal adalah faktor biaya produksi listrik yang masih lebih tinggi dibandingkan energi fosil. Saat ini, biaya listrik dari batu bara berkisar USD 6–8 sen per kilowatt hour (kWh)., sedangkan geotermal mencapai sekitar USD 18 sen per kWh.
“Perbedaan harga ini membuat pengembangan geothermal belum optimal, padahal potensinya sangat besar dan lebih bersih,” katanya.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi lintas kementerian dan penguatan riset untuk menciptakan teknologi yang dapat menekan biaya produksi energi panas bumi.
Selain itu, Stella menyebut Indonesia memiliki data potensi geotermal yang sangat presisi dan menjanjikan untuk menarik investasi global dalam pengembangan energi bersih.
“Indonesia adalah salah satu negara dengan potensi geothermal terbesar di dunia. Ini peluang besar untuk mendorong investasi energi terbarukan,” ujarnya. (MK/SB)






