JAKARTA – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini tidak cukup dilakukan melalui pergantian kurikulum atau penyempurnaan dokumen pembelajaran. Yang lebih mendesak adalah mengubah praktik pembelajaran di kelas agar mampu mendorong anak berpikir, menganalisis, dan menemukan makna dari pengalaman belajarnya.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen Magister PAUD Universitas Panca Sakti Bekasi, Irma Yuliantina, dalam diskusi bertajuk Implementasi Computational Thinking (CT) di PAUD untuk Mendukung Capaian PISA Indonesia di Hotel Artotel Senayan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Irma, selama bertahun-tahun dunia pendidikan lebih sering berfokus pada perubahan kurikulum, sementara proses pembelajaran yang terjadi di kelas relatif tidak mengalami perubahan signifikan.
“Selama ini kita sering mengganti kurikulum atau dokumen pembelajaran, tetapi proses mengajarnya belum banyak berubah. Karena itu fokus utama yang perlu dilakukan adalah mengubah praktik pembelajaran di kelas agar lebih mendorong kemampuan berpikir anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan Computational Thinking (CT) yang saat ini mulai diperkenalkan di PAUD bukanlah mata pelajaran baru yang harus diajarkan secara terpisah. CT merupakan pendekatan yang menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam proses belajar melalui kegiatan yang merangsang kemampuan berpikir logis, sistematis, dan reflektif.
Namun, perubahan pendekatan tersebut tidak akan berjalan tanpa kesiapan guru. Irma menyebut kualitas dan latar belakang pendidikan guru PAUD masih menjadi tantangan utama.
Data yang dipaparkannya menunjukkan bahwa guru yang memiliki kualifikasi S-1 PAUD baru sekitar 13 persen. Sementara sekitar separuh guru lainnya merupakan lulusan program studi di luar PAUD dan sebagian masih belum menyelesaikan pendidikan sarjana.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat penguatan kapasitas guru menjadi agenda yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar perubahan dokumen kurikulum.
Pengalaman pendampingan guru di Kabupaten Kudus menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tidak dapat dicapai melalui pelatihan singkat. Guru membutuhkan proses pendampingan berkelanjutan yang mencakup pelatihan, implementasi di kelas, monitoring, hingga evaluasi.
Dalam program tersebut, pendampingan dilakukan selama tujuh bulan. Hasilnya memperlihatkan bahwa setiap guru memiliki tantangan yang berbeda. Sebagian masih kesulitan menata lingkungan bermain yang mendukung pembelajaran, sementara yang lain belum terbiasa mengajukan pertanyaan pemantik yang mampu mendorong anak berpikir lebih dalam.
Irma mengatakan perubahan paling penting terjadi ketika guru mulai menyadari bahwa pembelajaran selama ini masih didominasi instruksi dari guru. Anak lebih sering diminta mengikuti arahan daripada diberi kesempatan mengeksplorasi dan menemukan jawaban sendiri.
Padahal, lanjutnya, esensi Computational Thinking adalah membantu anak memahami persoalan, mengidentifikasi informasi penting, menyusun langkah penyelesaian, dan menarik makna dari pengalaman yang mereka alami. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep deep learning atau pembelajaran mendalam yang saat ini menjadi fokus transformasi pendidikan.
Ia mencontohkan bahwa kemampuan berpikir komputasional dapat dikembangkan melalui aktivitas sederhana sehari-hari. Ketika anak menjelaskan urutan memakai sepatu atau menceritakan pengalaman berkunjung ke suatu tempat, mereka sebenarnya sedang belajar menyusun algoritma dan melakukan abstraksi.
Karena itu, menurut Irma, peningkatan kualitas pembelajaran PAUD tidak harus dimulai dengan menambah materi baru dalam kurikulum. Yang lebih penting adalah memastikan guru mampu menciptakan pengalaman belajar yang membuat anak aktif berpikir sejak usia dini.
“Computational Thinking bukan sesuatu yang rumit. Yang perlu diubah adalah cara kita berinteraksi dengan anak dan cara kita memfasilitasi proses berpikir mereka dalam kegiatan sehari-hari,” katanya. (MK/SB)






