NUSANTARA – Lokasi eks tambang di RT 12 Kelurahan Sungai Seluang, Kecamatan Samboja, Kabupaten Penajam Paser Utara, tak lain delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN) “diremajakan” kembali oleh Otorita IKN kolaborasi sejumlah pihak, maupun tokoh kelurahan setempat.
Lahan seluas kurang lebih 1,6 hektare dan masih dalam kawasan konservasi Taman Hutan Raya Bukit Soeharto itu ditanami bibit tanaman sekitar seribu pohon, Kamis (18/6/2026).
Sebanyak 1.000 bibit pohon ditanam sebagai bagian dari upaya pemulihan kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.
Tiga jenis tanaman yang ditanam meliputi Balangeran (Balau Merah), Trembesi, dan Tanjung.
Mewakili Kepala OIKN, Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LHSDA) OIKN, Myrna Asnawati Safitri, mengatakan revegetasi tersebut tidak hanya bertujuan mengembalikan fungsi ekologis kawasan, tetapi juga menjadi model pemulihan lahan bekas tambang di wilayah IKN.
“Nantinya, bakal menjadi acuan dalam pemulihan kawasan-kawasan bekas tambang lainnya,” jelas Myrna di lokasi.
Revegetasi itu juga sebagai bentuk komitmen multi pihak dalam menjaga Tahura Bukit Soeharto dari berbagai ancaman maupun tindakan aktivitas ilegal. Jadi tidak ada nego-nego lagi.
“Tidak ada negosiasi lagi, Tahura adalah kawasan konservasi yang harus dijaga bersama. Penegakan hukum dilakukan, pemulihan lingkungan dilakukan, dan penyelesaian persoalan penguasaan lahan juga mulai kami identifikasi,” tandas Myrna.
Irjen Pol Edgar Diponegoro, staf khusus Kepala Otorita IKN Bidang Keamanan dan Keselamatan Publik sekaligus Wakil Ketua Satgas Penanggulangan Aktivitas Ilegal IKN menegaskan, Otorita sedang melakukan pendataan dan identifikasi secara menyeluruh kompleksitas persoalan yang terjadi di Tahura, sebelum mengambil langkah-langkah lanjutan.
Ia juga mengimbau masyarakat yang baru memasuki kawasan konservasi untuk menghentikan aktivitas yang berpotensi melanggar aturan sebelum tindakan penegakan hukum dilakukan.
“Dan ini harus dipatuhi. Kami sudah beberapa kali mengeluarkan imbauan,” jelas Edgar.

Hadir sebagai tokoh yang pernah tinggal di wilayah Samboja, Rizal Effendi (mantan Wali Kota Balikpapan) mengapresiasi langkah Otorita. Ia sepakat jika kawasan Tahura harus diselamatkan dengan revegetasi. Menurutnya, kerusakan kawasan Tahura saat ini sudah sangat mengkhawatirkan akibat aktivitas tambang ilegal yang berlangsung selama bertahun-tahun.
“Sebagai orang yang pernah tinggal di Samboja, tentu upaya seperti ini harus terus digelorakan. Tahura ini sudah banyak mengalami kerusakan, terutama akibat tambang. Masyarakat perlu diajak kembali mencintai lingkungan untuk mengembalikan Samboja yang dulunya asri. Tapi Ini tantangan besar, masyarakat harus didorong beralih dari aktivitas tambang ke sektor-sektor yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelas Rizal.
Sementara itu, Direktur Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Otorita IKN, Lazuardi Nasution, dalam sambutannya mengatakan, kegiatan revegetasi yang dimulai pukul 07.30 Wita ini sekaligus kegiatan penutup dari sejumlah rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Kami melakukan sejumlah kegiatan ya, sejak 5 Juni lalu. Kemudian korve di area Masjid Negara, lalu bersih pantai Tanah Merah dan penanaman mangrove, hingga kegiatan Envi Walk enam belas Juni, dan kemudian revegetasi eks lahan tambang hari ini,” pungkasnya. (MK/SB)






