Sabtu, Juni 15, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Indonesia Justice Conference 2023 Resmi Dimulai, Tony: Keadilan Bukan Semata-mata di Ruang Pengadilan

DENPASAR – Indonesia Justice Conference 2023 dengan tema “Restoring Justice, Transforming Nation” resmi dimulai, yang digelar Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia (PPHKI) di Menorah Hall Lembah Pujian, Denpasar Bali, Jumat (30/6/2023) pagi tadi. Ditandai dengan pemukulan gong oleh Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Dr. Daniel Yusmic P. FoEkh S.H. M.Hum.

Konferensi seri keempat ini bertujuan untuk mengajak semua pihak untuk memahami, memperjuangkan, dan mewujudkan nilai-nilai keadilan yang mulia.

Peserta dari berbagai latar belakang dan status sosial berkumpul pada hari istimewa ini, membawa harapan besar untuk membawa perubahan dalam masyarakat.

“Mereka yang hadir di sini memiliki kerinduan yang mendalam untuk mengatasi fenomena ketidakadilan yang masih terjadi di bangsa ini. Baik ini disadari maupun tidak. Salah satu misi utama konferensi ini adalah untuk membuka mata masyarakat akan pentingnya mewujudkan keadilan,” tutur Tony Budidjaja SH. LLM, selaku Pendiri dan Penjaga PPHKI dalam sambutan pembukanya.

Menurutnya, meskipun sebagian orang mungkin masih meragukannya atau menganggapnya sepele, keadilan adalah sesuatu yang krusial dan harus diperjuangkan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya menjadi tanggung jawab pejabat hukum dan pemerintah.

“Konferensi ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk mendengar aspirasi, serta mengungkapkan makna keadilan yang sejati,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan di Indonesia tidak akan mungkin tercapai tanpa adanya keadilan yang kokoh. Asa akan keadilan harus menjadi fokus dalam masyarakat kita yang saat ini masih terbelah.

Keadilan yang diharapkan adalah keadilan konkret yang dirasakan oleh setiap individu. “Keadilan bukan hanya masalah di ruang pengadilan, melainkan harus dinyatakan di setiap lapisan masyarakat, baik di kantor hingga rumah-rumah kita. Keadilan bukanlah sesuatu yang hanya menunggu, tetapi harus aktif,” bebernya.

Keadilan adalah sifat dasar yang harus dicari dan dirindukan oleh setiap individu. Harus diingat bahwa keadilan sejati memiliki dua sisi yang saling berkaitan, yaitu keadilan di antara manusia dan keadilan dalam hubungan dengan Tuhan.

“Dalam mewujudkan keadilan sejati, manusia dituntut untuk melibatkan belas kasihan terhadap sesama, bukan hanya sekadar menjalankan penegakan hukum yang sempurna,” tuturnya.

Selain itu, keadilan bukanlah semata-mata tentang uang. “Uang hanyalah alat yang dapat membawa potensi kejahatan jika tidak digunakan dengan bijaksana. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mempraktekkan nilai-nilai keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun sulit, dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat untuk berbuat baik dan benar,” ungkapnya.

Konferensi yang digelar hingga Sabtu (1/7) besok ini diikuti lebih dari 300 peserta berasal dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia. Di antara dari kalangan profesional hukum, akademisi, mahasiswa, dan pemimpin agama.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WITA yang diawali dengan sesi Pujian dan Penyembahan yang dipimpin GBI Rock Worship Team. Setelah acara pembukaan dilanjutkan diskusi panel yang difokuskan pada berbagai aspek keadilan.

Para pembicara menjelajahi topik-topik seperti integritas dan profesionalisme dalam profesi hukum, penegakan hukum yang adil, dan mengupayakan perdamaian dengan mendorong pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang Mediasi dan Keadilan Restoratif. Sejumlah pembicara yang hadir di antaranya Fredrick J. Pinakunary, SH, SE; Gede Astawa; Sahat Poltak; dan Hasudungan Manurung, SH , MH. Setelah diskusi panel, peserta konferensi akan memiliki kesempatan untuk mengikuti sesi breakout di berbagai ruangan.

Sesi-sesi ini membahas topik seperti integritas dalam pengembangan karier bagi pengacara muda, perdamaian melalui pendekatan mediasi dan keadilan restoratif, serta advokasi untuk kebebasan beragama.

Para ahli di bidang masing-masing, termasuk Yonathan Andre Baskoro, SH, LLM, MAP; Vonnie Sutedjo, SH, LLM; dan Martin Lukas Simanjuntak, SH, bersama dengan Kongkin Atmodjo, STh, memimpin sesi-sesi ini.

Pada sore hari, peserta juga mendengarkan presentasi dan kesaksian yang berharga dalam sesi Sharing Visi dan Testimoni di ruang utama. Berbagai topik akan dibahas, termasuk perlindungan perempuan dan anak-anak dari kekerasan (domestik) dan perdagangan manusia, tantangan dalam bidang hukum agraria, keberagaman dan identitas kebangsaan, serta penanganan kasus korupsi.

Pembicara terkemuka seperti Yohana Pandhi, SH; Dr. Stefanie Hartanto, SH, MKn; Dr. Linda Bustan; Rosalina, SH; dan Martin Lukas berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka selama sesi ini.

Konferensi hari pertama ditutup dengan sesi Networking, di mana peserta dapat berinteraksi dan menjalin hubungan dengan sesama peserta.

Konferensi akan berlanjut pada Sabtu, 1 Juli 2023 besok. Sesi-sesi utama akan meliputi topik memenuhi panggilan Tuhan dalam bidang hukum dan pemerintahan, transformasi bangsa, dan advokasi global.

Diskusi panel kedua akan membahas tantangan geopolitik dan pluralisme dalam perspektif Pancasila, reformasi hukum untuk transformasi bangsa, dan persiapan profesi hukum dan generasi menghadapi disrupsi teknologi.

Sesi breakout di ruangan juga akan diadakan dengan topik-topik seperti menginjil tanpa melawan hukum, partisipasi bermakna dan tinjauan yudisial dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, serta peran gereja dan profesi hukum dalam menghadapi isu-isu gender, radikalisme, dan arus teknologi. (SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER