Kemendikdasmen Lepas 1.658 Alumni Kursus Bali Bekerja ke Luar Negeri

GIANYAR — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melepas sebanyak 1.658 alumni lembaga kursus se-Provinsi Bali untuk bekerja di luar negeri. Capaian ini dinilai sebagai bukti konkret penguatan peran pendidikan nonformal dalam menyiapkan tenaga kerja berdaya saing global.

Program tersebut dijalankan melalui Direktorat Kursus dan Pelatihan di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK).

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa pendidikan kursus memiliki posisi strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang kompetitif.

“Kompetensi adalah kunci kehidupan kita. Siapa yang ingin sukses, dia harus menguasai keahlian yang kompetitif,” ujar Atip dalam sambutannya, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, bekerja di luar negeri membuka peluang besar bagi lulusan kursus karena pendekatan pelatihan yang berorientasi praktik memungkinkan mereka beradaptasi lebih cepat di dunia kerja profesional.

“Bukan hanya bekerja, kalian juga menjadi duta bangsa. Tunjukkan etos kerja yang baik dan pelajari hal-hal positif yang bisa dibawa pulang ke Indonesia,” lanjutnya.

Direktur Kursus dan Pelatihan, Yaya Sutarya, turut mengapresiasi komitmen lembaga kursus di Bali yang konsisten menyelenggarakan pelatihan vokasional adaptif. Sejumlah bidang keterampilan yang diminati dunia kerja internasional antara lain perhotelan, spa, pertanian, dan barista.

“Kepada para lulusan yang segera berangkat, kami berpesan agar menjaga nama baik bangsa, menjunjung disiplin, serta profesionalisme,” kata Yaya.

Sebanyak sembilan lembaga kursus di Bali tercatat berhasil menyalurkan alumninya ke luar negeri, yakni Overseas Training Centre (OTC), BEC Academy, Bali Saraswati SPA Academy, Tulip SPA School, Taruna Samudra, Gayatri Binar Abadi, Bali International Tourism School, Queen International, serta Lembaga Pendidikan Bali Asia.

Selain itu, perluasan kesempatan kerja juga didorong melalui Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK), yang menyasar anak putus sekolah dan pencari kerja muda. Berdasarkan hasil tracer study PKK 2025, sebanyak 83 persen lulusan program tersebut telah terserap di perusahaan dalam maupun luar negeri.

Ketua Perkumpulan Purnabakti Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Seluruh Indonesia (Perpukadesi), Bibit Waluyo, menilai program kursus berkontribusi signifikan dalam menekan angka pengangguran.

“Ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dalam memperkuat pembangunan SDM. Jangan berhenti mengembangkan karier melalui berbagai keterampilan,” tuturnya. (MK/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER