JAKARTA – Koalisi Keadilan menilai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merupakan pihak paling bertanggung jawab atas kerusuhan yang berlangsung tiga hari terakhir di sejumlah wilayah Indonesia.
Koordinator Koalisi Keadilan, Fuad Adnan, berpendapat Kapolri seharusnya sigap menjaga keamanan ketika demonstrasi pecah menjadi kerusuhan, namun menurutnya fungsi tersebut tidak dijalankan secara optimal.
“Kami (Koalisi Keadilan) melihat ada fungsi Kapolri (dalam hal memelihara keamanan dan ketertiban) yang tidak berjalan selama dua-tiga hari terakhir. Padahal sebagai pucuk pimpinan tertinggi Kepolisian, Kapolri seharusnya mampu memastikan keamanan dan ketertiban umum di masyarakat,” ujar Fuad dalam keterangan kepada awak media, Sabtu (30/8/2025) malam.
Bagi Fuad, Presiden Prabowo perlu mengevaluasi fungsi Kapolri Listyo Sigit selama protes dan kerusuhan 28–30 Agustus. Sebab, Presiden memiliki hak prerogatif mengganti pimpinan kepolisian.
“Jadi ini memang soal keberanian Presiden Prabowo. Saya kira Presiden harus berani copot dan ganti Kapolri Listyo Sigit. Itu hak prerogatif yang dimiliki Presiden, dan harus digunakan untuk kepentingan masyarakat banyak. Apalagi dukungan publik untuk mengganti Kapolri Listyo Sigit juga terus mengalir,” ucap dia.
Fuad menegaskan, pergantian Kapolri diharapkan menghadirkan pendekatan keamanan baru dalam menangani demonstrasi. Menurutnya, langkah itu bisa memunculkan optimisme publik terhadap agenda reformasi Polri ke depan.
Kapolri Listyo Sigit, kata Fuad, gagal menangani demonstrasi sehingga berujung kematian Affan Kurniawan. Hal itu memperkuat alasan pentingnya reformasi kepolisian dengan pergantian pucuk pimpinan.
“Saya kira memang sudah waktunya Jenderal Sigit bersikap legowo melepaskan jabatannya sebagai Kapolri. Beliau harus bijak menyerahkan estafet kepemimpinan kepada generasi Polri berikutnya yang mungkin mampu mengubah pendekatan keamanan dalam demonstrasi dan serius mendorong agenda reformasi Polri. Tidak boleh lagi ada insiden kematian dalam penanganan demonstrasi,” tegas dia.
Diketahui, demonstrasi yang berubah menjadi kerusuhan disertai perusakan fasilitas umum terjadi tiga hari berturut-turut di Jakarta. Kerusuhan juga meluas ke Makassar, Majene, Pontianak, Banjarmasin, hingga NTB. (MK/SB)






