Sabtu, Juli 13, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lika-liku Prostitusi di Pulau Dewata

DENPASAR – Prostitusi di Bali tetap eksis. Para pekerja seks komersial (PSK) di Pulau Dewata memasarkan jasa kencan singkat pada pria hidung belang dengan beragam cara, termasuk melalui aplikasi perpesanan seperti MiChat.

Cahaya, bukan nama sebenarnya, misalnya. Ia menjadi PSK online sejak berusia 17 tahun. Untuk memasarkan jasanya, perempuan berusia 19 tahun ini menggunakan aplikasi MiChat. Tarif sekali kencan dengan perempuan asal Tabanan, Bali itu sebesar Rp 600 ribu.

Untuk menarik para pria, Cahaya kerap mencantumkan petunjuk di akun MiChat miliknya. Kode yang dipasang antara lain, “cari cuan” dan “memuaskan”.

Saat ada tamu yang menghubunginya melalui aplikasi perpesanan itu ia akan membalasnya dengan kata fullser alias full service yang artinya layanan penuh selama berhubungan intim. Cahaya melayani tamunya di sebuah hotel kecil di Badung, Bali.

Para pria hidung belang itu bisa langsung menuju kamar kembang latar itu setelah menyepakati tarif dan jadwal berhubungan intim.

Lain lagi dengan Cemara, bukan nama sebenarnya. Perempuan berusia 24 tahun ini memasarkan jasa seks secara online, open booking out (BO) sejak 2020.

Alumnus salah satu universitas di Jakarta ini juga memasarkan jasa esek-esek melalui teman-temannya. Bahkan, di Bali, dia terhubung dengan salah satu sopir travel untuk mencari pria hidung belang.

Cemara juga kerap open BO di kota lain. Pernah ia buka jasa esek-esek di Surabaya, Jawa Timur, selama dua pekan. Cemara menetapkan tarif kencan singkat atau short time sebesar Rp 1,5 juta. Namun, untuk long time bisa mencapai Rp 2-3 juta.

Bisnis prostitusi konvensional yang mengandalkan lokalisasi di Bali tetap bertahan meski prostitusi online berkembang pesat. Di Jalan Danau Tempe dan Jalan Tambaksari, Denpasar, masih bisa ditemukan para kembang latar yang menjajakan kencan singkat pada pria hidung belang.

Salah satunya, Sinta. Perempuan berusia 39 tahun ini menjajakan kencan singkat di warung-warung sempit di Jalan Tambaksari. Mirisnya, dia mengajak putrinya ke lokalisasi tersebut.

“Ya karena kepepet saja karena cari di Bali itu mustahil ada yang menerima kerja sambil bawa anak,” keluh perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, tersebut. Sinta memasang tarif Rp 130 ribu untuk sekali kencan.

Sosiolog Universitas Udayana Wahyu Budi Nugroho menyoroti dampak negatif dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Salah satu dampak buruknya ialah merebaknya prostitusi online karena pria hidung belang dan PSK lebih mudah terhubung dengan beragam aplikasi perpesanan.

“Kemajuan teknologi tanpa sentuhan kemanusiaan hanya akan berdampak pada degradasi nilai-nilai kemanusiaan seperti penyebaran pornografi dan munculnya prostitusi online,” kata Wahyu kepada detikBali Kamis (5/1/2023).

Peneliti isu perempuan dan anak Any Sundari mengatakan banyak perempuan yang menjadi korban dengan tidak bisa lepas dari prostitusi. Kebanyakan dari mereka dijerat oleh utang dan ancaman kekerasan. Salah satu bentuk ancaman paling lazim adalah penyebaran video.

Di sisi lain, adanya aplikasi online memudahkan orang mengakses dan menjajakan jasa prostitusi. Namun, sejak kawasan prostitusi ditutup di beberapa daerah dan beralih ke online, risiko aktivitas tersebut menjadi sulit dikontrol, terutama risiko yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

“Saat ini polanya tersebar dan risiko penyebaran penyakit kurang bisa dikontrol. Secara kesehatan dan keamanan, mereka yang beroperasi secara individu melalui aplikasi lebih berisiko,” ucapnya kepada reporter detikX. (nor/gsp/dtc)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER