JAKARTA — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyatakan perguruan tinggi dilibatkan secara aktif dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan ketergantungan energi impor, khususnya bahan bakar minyak (BBM), melalui riset dan pengembangan teknologi.
Menurut dia, ketergantungan Indonesia terhadap energi impor masih cukup besar. Namun, pemerintah berupaya menjaga agar kebijakan energi tidak membebani masyarakat, termasuk dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi.
“Presiden memberi arahan agar kebijakan energi tidak memberatkan masyarakat. Karena itu, kementerian teknis terus mencari terobosan agar harga BBM tetap terkendali,” kata Brian dalam acara Halal Bihalal Kemdiktisaintek di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Dalam konteks tersebut, Kemdiktisaintek bersama perguruan tinggi terlibat dalam berbagai kajian strategis lintas sektor, termasuk mendukung program transisi energi. Salah satunya adalah perumusan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt untuk menggantikan pembangkit listrik diesel yang dinilai mahal dan bergantung pada solar.
Selain itu, kajian juga mencakup elektrifikasi sektor transportasi, termasuk uji coba konversi kapal nelayan berbahan bakar solar menjadi listrik yang dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kementerian terkait seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (PKP).
Di sisi lain, Brian juga mendorong perubahan pola mobilitas masyarakat sebagai bagian dari efisiensi energi, seperti penggunaan sepeda dan berjalan kaki yang dinilai lebih sehat dan hemat energi, sebagaimana telah menjadi praktik umum di sejumlah negara maju.
Tak hanya sektor energi, perguruan tinggi juga dilibatkan dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah. Ia menyebut komposisi sampah di Indonesia didominasi limbah makanan hingga 50–60 persen, sehingga membutuhkan pendekatan teknologi yang spesifik dan sesuai karakteristik nasional.
“Teknologi pengolahan sampah sudah banyak dikembangkan di kampus dan kini dikoordinasikan dengan kementerian teknis agar bisa diimplementasikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Brian menegaskan bahwa peran perguruan tinggi difokuskan pada riset, pengembangan teknologi, dan penyiapan sumber daya manusia (SDM), sementara implementasi kebijakan tetap berada di bawah koordinasi kementerian teknis.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian global, Kemdiktisaintek juga menerbitkan surat edaran terkait penyesuaian pola kerja dan pembelajaran di perguruan tinggi agar lebih efisien tanpa mengganggu proses akademik. Salah satunya melalui pengaturan jadwal mengajar dosen yang lebih fleksibel, termasuk opsi bekerja dari rumah.
“Kita antisipasi jika krisis global berkepanjangan, tetapi proses pembelajaran harus tetap berjalan optimal,” kata Brian. (MK/SB)






