Tak Lagi Disebut “P5”, Sekolah Kini Diminta Kembangkan Kolaboratif Lintas Mapel

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa program Kokurikuler tetap berjalan dan dilanjutkan, meskipun istilah “Projek” resmi dihilangkan dari penyebutannya. Hal ini menyusul evaluasi menyeluruh terhadap implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang selama ini dirasa membebani berbagai pihak, termasuk orang tua murid.

“Kami tetap mempertahankan substansi program Kokurikuler. Hanya istilah ‘projek’-nya saja yang kami hilangkan,” ujar Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Laksmi Dewi di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Jumat (18/7/2025).

“Ini juga merupakan masukan langsung dari Bapak Menteri,” tambahnya.

Laksmi menjelaskan, pelaksanaan program Kokurikuler kini difokuskan pada pendekatan yang lebih fleksibel, yakni melalui kolaborasi lintas mata pelajaran. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk memperkuat kompetensi siswa dan mendukung pencapaian Profil Lulusan dengan delapan dimensi karakter utama.

Menurutnya, program ini tetap memungkinkan pelaksanaan kegiatan berbasis proyek (project-based), namun bukan dalam bentuk P5 seperti sebelumnya yang dinilai kerap menimbulkan kerancuan di lapangan.

“Silakan kalau sekolah ingin melakukan inovasi, menggunakan pendekatan berbasis project. Tapi bukan lagi dalam kerangka project P5,” tegas Laskmi .

Sebagai bentuk dukungan terhadap pembelajaran karakter, lanjut Laksmi, Kemendikdasmen juga telah mengintegrasikan materi seperti tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yang dikembangkan oleh Pusat Pengembangan Karakter. Materi tersebut kini menjadi bagian dari pelaksanaan Kokurikuler.

Lebih jauh, Laksmi menambahkan, Kokurikuler kini diarahkan menjadi ruang kolaborasi tidak hanya antar siswa, tetapi juga antar guru lintas mata pelajaran. Misalnya, guru Bahasa dapat berkolaborasi dengan guru Biologi jika menemukan titik temu dalam konten pembelajaran atau tujuan penguatan karakter yang sama.

“Jika dulu guru Bahasa dan Biologi seolah tidak nyambung, kini kami dorong untuk membuka ruang kolaborasi. Yang penting adalah hasilnya nyata, baik berupa karya, produk pembelajaran, maupun kegiatan bermakna,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Laksmi kembali menegaskan bahwa projek P5 secara istilah memang tidak lagi muncul dalam kurikulum, meski aktivitas penguatan karakter tetap dipertahankan dalam bentuk kokurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. (MK/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER