YLBHI: Pergantian Kapolri Harus Disertai Reformasi Sistemik, Bukan Sekadar Simbol

JAKARTA — Ketua YLBHI, Muhamad Isnur, menegaskan pergantian Kapolri tidak boleh berhenti pada simbol kepemimpinan semata. Menurutnya, perubahan harus menyasar aspek sistemik, fundamental, dan struktural kepolisian.

Pernyataan ini ia sampaikan usai konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Kepolisian (RFP) bertajuk “Koalisi Tuntut Presiden Membentuk Tim Reformasi Kepolisian Independen” di Resonansi ICW, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (15/9/2025).

Isnur menilai kriteria Kapolri mendatang harus jelas, mulai dari visi reformasi yang serius, pengalaman manajerial yang mumpuni, hingga komitmen menjaga kepolisian tetap pada fungsi utamanya.

“Calon Kapolri harus punya visi serius seiring dengan reformasi kepolisian, pengalaman manajerial yang baik, serta catatan mendalam tentang apa saja yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Ia menekankan kepolisian tidak boleh menjadi alat politik, bisnis, atau kekuasaan. Menurutnya, Polri harus kembali pada mandat awal, yakni menjaga keamanan dan mengayomi masyarakat secara demokratis.

“Kapolri baru harus mampu menjaga kepolisian sebagai alat negara untuk kepentingan keamanan, bukan alat kekuasaan, apalagi alat politik atau bisnis,” tegas Isnur.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Presiden memiliki tanggung jawab penuh memastikan proses reformasi kepolisian berjalan sesuai konstitusi. Hal ini menjadi bagian dari mandat jabatan presiden.

“Presiden sebagai pemimpin yang dipilih rakyat punya mandat, janji, dan sumpah konstitusi. Maka, penuhilah catatan itu, jangan sekadar mengganti simbol,” kata Isnur.

Isnur juga menyoroti pentingnya integritas, meritokrasi, dan penghormatan terhadap HAM. Pemisahan Polri dari TNI, menurutnya, harus dimaknai sebagai upaya menghapus budaya militerisme, kekerasan, dan brutalitas yang selama ini melekat.

“Visi HAM, integritas, dan demokratisasi itu penting. Pemisahan Polri dari TNI adalah mandat reformasi untuk menghilangkan budaya militernya, kekerasannya, hingga brutalitasnya. Itu harus diubah,” tuturnya.

Belakangan, wacana pergantian Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo semakin ramai diperbincangkan. Presiden Prabowo disebut telah mengirim surat presiden (surpres) ke DPR mengenai calon penggantinya, meski pihak Istana dan pimpinan DPR menegaskan belum menerima dokumen resmi.

Situasi ini menegaskan desakan Koalisi dan keluarga korban semakin penting: pergantian Kapolri seharusnya dibarengi reformasi sistemik agar tidak berhenti pada simbol politik belaka. (MK/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER