Dian Sastrowardoyo Sebut Pentingnya Empati dan Intuisi Perempuan di Era AI

JAKARTA — Aktris dan pegiat literasi digital, Dian Sastrowardoyo, menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin memperkuat pentingnya nilai-nilai manusia seperti empati, kreativitas, dan intuisi terutama yang dimiliki perempuan. Hal itu disampaikannya dalam sebuah sesi Talkshow Demo Day Perempuan Inovasi 2025 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Rabu (10/12/2025).

Dalam acara yang mengusung tema “Menjadi Changemaker di Era AI: Kekuatan Perempuan dalam Transformasi Profesi” ini, Dian menjelaskan teknologi AI kini semakin banyak digunakan dalam proses kreatif, termasuk produksi grafis dan film. AI, menurutnya, telah mempercepat banyak pekerjaan manual, mulai dari graphing hingga pengolahan visual.

“AI dapat meng-enhance pekerjaan kita, membuat beberapa proses lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa kendali dapat memicu persoalan etika dan kreativitas. Beberapa film, sebut Dian, telah menjadi bahan diskusi karena konten kreatifnya dinilai terlalu didominasi AI dan bukan lagi hasil kreasi manusia.

“AI itu membaca pola sukses dan menghasilkan sesuatu yang mirip, sehingga risikonya adalah hilangnya keaslian karya,” kata Dian.

Dalam diskusi, Dian juga menyinggung perdebatan filosofis mengenai kemungkinan AI menggantikan peran perempuan, terutama dalam keluarga. Ia menilai peran ibu sebagai pendidik pertama dan penjaga nilai dalam keluarga tidak dapat disubstitusi teknologi.

“Perempuan membawa empati, intuisi, dan kreativitas hal-hal yang tidak bisa direplikasi AI,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan sebenarnya bukan apakah AI bisa menggantikan perempuan, melainkan apakah perempuan mampu memimpin penggunaan AI secara bijak.

“Perempuan punya sensitivitas yang kuat. Justru kita yang harus memimpin bagaimana AI digunakan dengan etis dan manusiawi,” ujarnya.

Lebih jauh Dian juga menambahkan bahwa isu ini akan menjadi salah satu tema dalam karya terbarunya “Esok Tanpa Ibu” yang akan dirilis pada 22 Januari 2026 mendatang.

Dalam karya terbarunya, film ini bercerita tentang seorang anak yang berusaha membangunkan ibunya yang koma. Anak tersebut memanfaatkan AI untuk memutar ulang memori-memori sang ibu, mulai dari suara, aroma, hingga rekaman favorit sebagai stimulus.

“Awalnya AI digunakan untuk membantu membangunkan ibunya. Tapi kemudian disalahgunakan oleh si anak untuk tempat curhat,” jelas Dian.

Ia mengaitkan fenomena ini dengan kecenderungan masyarakat modern yang menggunakan chatbot AI, termasuk ChatGPT, untuk mencurahkan isi hati terkait pekerjaan hingga urusan personal.

Dian menekankan bahwa penyalahgunaan tersebut menunjukkan risiko ketika manusia mulai mengalihkan fungsi relasi emosional kepada teknologi.

“Kalau ini mulai terjadi, kita harus berhati-hati. Mesin bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan hubungan emosional manusia,” katanya. (MK/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER