JAKARTA — Indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan Rabu (28/1/2026), meski pasar global masih dibayangi ketegangan perdagangan dan geopolitik yang memicu pergerakan aset safe haven.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai dinamika global saat ini masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump, terutama terkait wacana tarif perdagangan yang kembali memicu ketidakpastian pasar.
“Kebijakan tarif dan retorika perdagangan agresif Presiden Trump justru membebani dolar AS karena memicu eskalasi perang dagang, termasuk dengan Korea Selatan, yang berdampak ke pasar keuangan global,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Ia menambahkan, meningkatnya risiko penutupan pemerintahan AS serta ketegangan antara Trump dan bank sentral turut mendorong investor beralih ke aset lindung nilai, khususnya logam mulia, di tengah kekhawatiran atas independensi kebijakan moneter.
“Perselisihan Trump dengan The Fed dan rencana penunjukan ketua baru setelah Jerome Powell menimbulkan kekhawatiran pasar, sehingga emas kembali mendapat dukungan kuat sebagai aset aman,” katanya.
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran eskalasi konflik dan menambah sentimen risk-off di pasar global.
Sementara itu, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan Kamis (29/1/2026) dini hari WIB, dengan ekspektasi suku bunga acuan tetap bertahan di kisaran 3,50–3,75 persen.
“Pasar saat ini menunggu sinyal dari The Fed, terutama pernyataan Jerome Powell, karena pedagang memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun ini,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, pasar merespons positif kelanjutan empat program stimulus fiskal 2025 ke tahun 2026 yang diumumkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mulai dari PPh final UMKM hingga diskon iuran jaminan sosial.
Ibrahim menilai peran APBN sebagai peredam guncangan masih sangat kuat di tengah tekanan global, tercermin dari realisasi belanja negara dan pendapatan yang tetap solid sepanjang 2025.
“Penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,41 persen menunjukkan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia masih terjaga dengan baik,” tuturnya.
Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah menguat 46 poin ke level Rp16.722 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.758. Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap berpeluang ditutup menguat di kisaran Rp16.670 hingga Rp16.730 per dolar AS. (MK/SB)






