JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang melaju sangat cepat dipastikan akan mengubah hampir seluruh lanskap pekerjaan dan cara manusia berkarya. Disrupsi akibat AI tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga menyentuh makna bekerja, berkontribusi, dan memberi dampak bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, dalam orasi ilmiah pada Wisuda Universitas Gunadarma di Jakarta, Rabu (29/1/2026).
Menurut Khairul, dunia kerja kini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum pendidikan tinggi. Banyak jenis pekerjaan masa depan bahkan belum memiliki nama, sementara kecerdasan buatan telah mampu menulis, menganalisis, hingga mengambil keputusan.
“Pertanyaan utama bagi lulusan hari ini bukan lagi apa gelar saya, melainkan apa relevansi dan kontribusi saya,” ujar Khairul. Ia menegaskan bahwa disrupsi terdalam saat ini bukan semata teknologi, melainkan disrupsi makna tentang apa arti bekerja, berkarya, dan berkontribusi.
Khairul menekankan bahwa sejak diwisuda, lulusan tidak lagi hanya menyandang identitas sebagai mahasiswa, tetapi sebagai warga bangsa terdidik. Pada fase inilah, ilmu pengetahuan diuji dalam realitas kehidupan, dan karakter menjadi penentu arah.
“Apa yang dipelajari di ruang kelas akan berhadapan langsung dengan kompleksitas kehidupan nyata,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Gunadarma Margianti berharap para wisudawan dapat melanjutkan estafet keilmuan yang diperoleh selama masa studi. Menurutnya, ilmu pengetahuan merupakan amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas.
“Hari ini Anda diwisuda bukan hanya sebagai sarjana, tetapi sebagai pribadi yang dipercaya membawa ilmu, nilai, dan tanggung jawab ke ruang-ruang kehidupan nyata,” ujar Margianti.
Khairul menambahkan bahwa selama ini keberhasilan pendidikan tinggi kerap diukur dari jumlah lulusan, publikasi ilmiah, dan reputasi institusi. Meski penting, indikator tersebut dinilai tidak lagi cukup. Paradigma baru pendidikan tinggi abad ke-21 adalah pendidikan yang berdampak.
“Pendidikan tinggi harus memberi dampak nyata bagi mahasiswa dan masa depannya, dunia kerja dan industri, masyarakat dan daerah, serta daya saing bangsa di tingkat global,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa universitas bukan sekadar pusat ilmu pengetahuan, melainkan institusi moral dan intelektual yang berperan menjaga nilai dan nalar publik. Dalam konteks ini, Universitas Gunadarma dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk lulusan yang kuat secara intelektual, matang secara emosional, serta beretika dan bertanggung jawab.
“Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang kompeten, tetapi juga yang bertanggung jawab,” kata Khairul. Ia mengingatkan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk ikut memperbaiki dunia.
Khairul menitipkan empat pesan utama kepada para wisudawan. Pertama, ilmu adalah amanah hasil investasi keluarga, negara, dan masyarakat yang harus digunakan untuk memberi manfaat. Kedua, menjadi pembelajar sepanjang hayat karena perubahan akan terus berlangsung. Ketiga, membangun karakter sebagai kompas moral di tengah kemajuan teknologi. Keempat, mengukur kesuksesan dari dampak sosial, bukan semata jabatan atau posisi.
“Ijazah adalah modal awal, bukan jaminan masa depan. Nilainya akan tumbuh jika disertai kemauan belajar ulang, kelenturan berpikir, dan kedewasaan karakter,” katanya.
Wisuda Universitas Gunadarma kali ini meluluskan 2.070 wisudawan, yang terdiri atas program Diploma Tiga, Sarjana, Magister, dan Doktor. Prosesi wisuda dihadiri oleh orang tua dan keluarga sebagai sistem pendukung utama di balik perjalanan akademik para lulusan.
Menutup orasinya, Khairul mengajak para lulusan menatap masa depan Indonesia dengan optimisme dan tanggung jawab.
“Bangsa ini membutuhkan generasi yang cerdas dan adaptif, tangguh berbasis nilai, serta bijaksana dalam keberagaman. Jadilah lulusan yang bermakna, relevan, dan berkontribusi nyata di era disrupsi,” pungkasnya. (MK/SB)






