Dubes Iran Tuding CIA dan Mossad Dalangi Destabilisasi di Teheran

JAKARTA — Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menuduh badan intelijen Amerika Serikat dan Israel berada di balik berbagai upaya menciptakan ketidakstabilan di Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026), menyusul meningkatnya ketegangan antara Teheran dengan Washington dan Tel Aviv.

Boroujerdi menilai tekanan terhadap Iran tidak hanya dilakukan melalui aksi militer terbuka, tetapi juga lewat tekanan ekonomi yang bertujuan memicu ketidakpuasan publik. Situasi tersebut, menurutnya, kemudian dimanfaatkan untuk menyusupkan operasi intelijen asing ke tengah aksi-aksi masyarakat.

“Setelah itu mereka menjalankan proyek menciptakan korban yang maksimal. Tentu agen-agen CIA dan Mossad berada di tengah-tengah mereka untuk menciptakan korban yang banyak. Nantinya, dengan dalih mendukung masyarakat yang berdemonstrasi, mereka melancarkan serangan terhadap Iran,” ujar Boroujerdi.

Ia juga mempertanyakan klaim Amerika Serikat yang disebut ingin membantu rakyat Iran, sementara di sisi lain berbagai kebijakan dan tindakan yang diambil justru dinilai berdampak pada warga sipil.

“Hal ironis lain adalah klaim bahwa Amerika Serikat ingin membantu masyarakat Iran. Saya ingin bertanya, bantuan seperti apa yang dimaksud? Sampai ratusan anak sekolah dasar menjadi korban. Bantuan seperti apa ini?” tegasnya.

Boroujerdi turut menyinggung sejarah panjang relasi Iran dan Amerika Serikat, termasuk peristiwa kudeta 1953, dukungan terhadap Irak dalam perang delapan tahun melawan Iran, hingga ketegangan yang kembali memuncak dalam beberapa tahun terakhir.

“Pada tahun 2020, ketika mereka melihat tidak berhasil membuat Iran tunduk, mereka melakukan aksi teror dengan membunuh seorang jenderal senior Iran yang merupakan pahlawan anti-ISIS di Irak. Mereka turun tangan langsung melakukan pembunuhan itu,” kata Boroujerdi.

Ia juga menyebut serangan pada 2025 terhadap fasilitas nuklir Iran yang diklaimnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Pada Juni 2025, mereka melakukan penyerangan terhadap situs nuklir damai Republik Islam Iran yang berada di bawah pengawasan langsung IAEA,” tambahnya.

Boroujerdi menilai Barat kerap menerapkan standar ganda dalam isu hak asasi manusia dan demokrasi. Ia mempertanyakan konsistensi narasi kemanusiaan tersebut, terutama ketika melihat banyaknya korban perempuan dan anak-anak dalam konflik di Gaza yang, menurutnya, tidak mendapat perhatian setara dari negara-negara Barat. (MK/SB)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER