Selasa, Juni 25, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Duka Dunia untuk Ribuan Korban Jiwa Gempa Terbesar di Maroko dalam 19 Tahun

MARRAKESH – Gempa bumi dahsyat dengan magnitudo (M) 6,8 mengguncang Maroko pada Jumat lalu. Ribuan nyawa melayang, dan banyak orang terluka akibat bencana tersebut.

Tidak hanya manusia yang menjadi korban, warisan budaya dunia yang dilindungi oleh UNESCO juga mengalami kerusakan yang cukup parah.

Guncangan hebat yang terjadi pada Jumat (8/9/2023) malam waktu setempat ini membuat warga Maroko panik, dengan banyak yang berlarian keluar dari bangunan mereka.

Kota-kota seperti Rabat, Casablanca, dan Essaouira juga merasakan getaran kuat yang berasal dari gempa ini. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan reruntuhan bangunan di gang-gang sempit dan barang-barang yang jatuh dari rak, menggambarkan ketakutan dan kepanikan yang melanda warga Maroko.

Menurut laporan terbaru dari AFP pada Minggu (10/9), jumlah korban tewas akibat gempa bumi ini telah mencapai 2.012 orang, dengan lebih dari 2.000 lainnya mengalami luka-luka.

Dari korban tewas tersebut, sekitar 1.293 orang tewas di provinsi Al-Haouz, pusat gempa, sementara 452 orang lainnya tewas di provinsi Taroudant. Kedua provinsi ini merupakan yang paling parah terdampak oleh gempa ini.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kerusakan yang dialami oleh beberapa situs bersejarah yang terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO di Maroko.

Tembok bersejarah Marrakesh, yang merupakan serangkaian benteng pertahanan abad ke-12, mengalami kerusakan parah akibat gempa ini. Kota lama ini terkenal dengan temboknya yang berwarna merah dan bangunan-bangunan bersejarah yang terbuat dari batu pasir merah, sehingga sering disebut sebagai “kota merah.”

Selain itu, salah satu masjid bersejarah yang terletak di dekat alun-alun bersejarah Marrakesh, Djemaa el-Fna, juga mengalami kerusakan. Menara masjid yang rusak ini adalah salah satu landmark terkenal di kota tersebut, dan Djemaa el-Fna sendiri merupakan situs Warisan Dunia UNESCO yang menjadi daya tarik utama bagi penduduk setempat dan wisatawan dari seluruh dunia.

Gempa ini menjadi peristiwa paling mematikan di Maroko dalam beberapa tahun terakhir. Sejak tahun 2004, negara ini tidak pernah mengalami bencana sebesar ini, kecuali saat gempa bumi dengan kekuatan 6,3 skala Richter melanda kota pelabuhan Al Hoceima. Gempa bumi terparah di Maroko pada zaman modern terjadi pada tahun 1960 di dekat kota Agadir di bagian barat, yang menyebabkan kematian sedikitnya 12.000 orang.

Meskipun bencana ini telah menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia, ada satu berita baik yang datang dari peristiwa ini. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rabat telah memastikan bahwa tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gempa ini.

KBRI Rabat juga memberikan jaminan bahwa delegasi Indonesia yang sedang mengikuti The 10th International Conference on UNESCO Global Geoparks 2023 di Marrakesh dalam kondisi aman.

Presiden Joko Widodo juga turut merasakan duka yang mendalam atas tragedi ini dan menyampaikan pesan belasungkawa melalui akun media sosialnya.

“Saya turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya kepada masyarakat Maroko atas gempa tragis yang terjadi. Pikiran serta doa kami mengiringi para korban, keluarga mereka, dan semua orang yang terdampak oleh kejadian ini,” ucapnya.

Dalam saat-saat seperti ini, solidaritas internasional dan upaya pemulihan menjadi sangat penting untuk membantu Maroko pulih dari bencana ini. (MK)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER