JAKARTA — Koordinator Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads), Syahrul E Dasopang, menyoroti kebiasaan pegawai pemerintah yang gemar berburu makan siang di luar kantor dan mengaitkannya dengan persoalan sampah organik hingga emisi metana di Indonesia.
Menurut Syahrul, fenomena Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ramai-ramai mendatangi rumah makan saat jam istirahat siang, sudah menjadi pemandangan umum di berbagai daerah. Ia menilai kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan budaya kerja birokrasi, tetapi juga berdampak terhadap produksi sampah makanan.
“Setiap kali para PNS itu makan enak dan banyak pada saat istirahat siang, sudah dapat dipastikan akan ada sekian volume sisa makanan yang berakhir menjadi sampah,” kata Syahrul dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, sisa makanan seperti nasi, sayur, tulang, hingga limbah cair dan plastik dalam jangka panjang akan terakumulasi menjadi sampah organik yang memicu emisi gas metana apabila tidak dikelola dengan baik.
Syahrul menilai kebiasaan berburu kuliner di kalangan pegawai pemerintah muncul sebagai bentuk pelampiasan dari tekanan lingkungan kerja birokrasi yang dianggap monoton dan feodalistik.
“Makan siang yang enak dan kadang berlimpah merupakan hiburan tersendiri dari kepenatan dan kebosanan rutinitas yang lambat dan feodal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya perbedaan pola konsumsi antara pegawai level bawah dan pejabat tingkat atas. Menurutnya, pejabat yang memiliki kewenangan penganggaran cenderung melakukan pertemuan makan siang di restoran atau hotel mewah bersama mitra swasta.
“Di level atas ini, motif makan siangnya bukan untuk menikmati dan menghibur diri, tapi lebih sebagai cara untuk mengkondisikan pembicaraan dengan mitra swasta mereka,” ungkap Syahrul.
Selain faktor budaya kerja, Syahrul menyebut kebiasaan tersebut turut ditopang oleh kondisi ekonomi pegawai pemerintah yang relatif stabil. Tunjangan makan, biaya representasi, hingga kepastian pendapatan dinilai membuat pegawai lebih leluasa mengalokasikan pengeluaran untuk aktivitas kuliner.
“Meskipun kebiasaan ini sering menjadi sorotan publik, gaya hidup tersebut umumnya didukung oleh komponen pendapatan resmi yang memang telah diatur oleh negara,” katanya.
Syahrul pun mendorong adanya peningkatan kesadaran mengenai pengelolaan sampah makanan, pengurangan limbah organik, serta perubahan pola konsumsi agar persoalan emisi metana tidak semakin membebani lingkungan di masa mendatang. (MK/SB)






