TANGERANG SELATAN — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa prestasi murid tidak boleh berhenti di panggung kompetisi. Melalui skema Beasiswa Talenta Indonesia, pemerintah memastikan talenta unggul nasional memperoleh keberlanjutan pembinaan hingga jenjang pendidikan tinggi sebagai bagian dari manajemen talenta nasional.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene, mengatakan kebutuhan utama murid berprestasi berdasarkan pelacakan alumni adalah keberlanjutan karier akademik dan akses pelatihan pengembangan talenta.
“Beasiswa ini adalah bagian dari apresiasi sekaligus pengembangan. Manajemen talenta tidak berhenti satu siklus, tetapi menjadi proses berkelanjutan sampai anak-anak dapat berkontribusi bagi masyarakat dan Indonesia,” ujarnya dalam dialog bersama Forum Wartawan Pendidikan, Minggu (1/3/2026) lalu.
Beasiswa Talenta Indonesia dirancang untuk mendanai pendidikan jenjang Sarjana (S1) dan Sarjana Terapan (D4) di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri. Program ini menyasar murid berprestasi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan SHARE (Social, Humanities, Art for People, Religious Study, Economics), bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Skema ini menjadi bagian dari siklus manajemen talenta nasional yang mencakup penjaringan, pembinaan, aktualisasi, apresiasi, hingga penguatan kapasitas.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid serta Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 16 Tahun 2026 tentang Standar Penyelenggaraan Ajang.
Kemendikdasmen menekankan bahwa penguatan talenta harus selaras dengan prinsip Pendidikan Bermutu untuk Semua, termasuk menjangkau murid di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Irene menegaskan prestasi tidak boleh terpusat di wilayah tertentu. Sistem seleksi dilakukan berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional untuk memastikan setiap murid memiliki kesempatan yang sama.
“Tidak boleh ada yang tertinggal dalam akses maupun kesempatan untuk mengaktualisasikan talenta,” katanya.
Salah satu program penguatan talenta di daerah 3T dan Indonesia Timur adalah Bina Talenta Indonesia. Program ini memberikan pelatihan di bidang STEM, kecerdasan artifisial, koding, dan penguatan karakter.
Menurut Irene, intervensi tersebut menunjukkan dampak signifikan. Peningkatan literasi sains peserta di wilayah 3T tercatat lebih tinggi dibandingkan wilayah non-3T, berdasarkan evaluasi sebelum dan sesudah mengikuti program.
“Penguatan di tahap pengembangan menjadi kunci agar talenta di daerah dapat tumbuh dan bersaing secara nasional,” ujarnya.
Pada 2026, Puspresnas akan menjalankan sejumlah program strategis, antara lain penyelenggaraan ajang nasional seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI), serta Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
Selain itu, pemerintah juga akan mengirim talenta ke ajang internasional, melakukan kurasi ajang dan sertifikat, mengoptimalkan Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT), menjalankan program BOS Kinerja Prestasi, serta memperluas cakupan Beasiswa Talenta Indonesia.
Kemendikdasmen berharap ekosistem manajemen talenta yang berkelanjutan dapat melahirkan generasi unggul yang tidak hanya berprestasi di kompetisi, tetapi juga berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (MK/SB)






