NUSANTARA – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) kerja sama sejumlah pihak, tengah memprioritaskan sedikitnya tiga klaster utama dari 17 subsektor Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang dikembangkan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) sesuai klasifikasi resmi Kementerian Ekonomi Kreatif guna mempercepat roda ekonomi lokal. Ketiga subsektor dimaksud, adalah Kuliner, Kriya, dan Wastra.
Direktur Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, mengungkapkan, tiga subsektor itu yang sedang digencarkan di kawasan IKN, meski tentunya tidak mengabaikan subsektor-subsektor yang lain.
“Salah satunya adalah kuliner. Kuliner ini potensi untuk kita kembangkan. Dan itu sudah beberapa kegiatan pelatihan kita lalukan bersama pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas para pelaku UMKM bidang kuliner. Kita sudah melakukan pendampingan kepada mereka untuk bagaimana meningkatkan kualitas produk, maupun desain kemasan,” tutur Muhsin.
Selain kuliner, Kriya juga jadi yang sedang digencarkan. Pada kerajinan tangan ini, Otorita juga terus memoles para pelaku binaan dengan kegiatan-kegiatan workshop guna peningkatan kualitas. Outputnya, tentu agar para pelaku Kriya dapat membuat karya-karya kerajinan tangan yang bagus dan lebih variatif.
“Lalu kita juga melakukan pengembangan wastra yang hari ini, kita beri pelatihan lanjutan, dari kegiatan-kegiatan yang sudah kita lakukan sebelumnya. Kita lakukan secara bertahap. Kita (direktorat Parekraf) sudah punya roadmap untuk meningkatkan kapasitas para pelaku ekonomi kreatif di bidang wastra,” terang Muhsin.
Seperti yang sedang digelar hari ini, Rabu (17/6/2026), Otorita berkolaborasi Bank Indonesia IKN menggelar workshop bagi 50 orang pelaku ekonomi kreatif Wastra khususnya batik maupun eco print. Workshop ditujukan agar mereka semakin andal dan mumpuni sebagai pelaku ekonomi kreatif wastra.
Direktorat Pariwisata dan Ekonomi Kreatif OIKN bersama BI menggandeng ‘Tepa Selira’ sebagai mentor. Tepa Selira tak lain jenama dari brand pakaian yang berbasis kain wastra (wastra) Indonesia, yang dimotori Ali Eunoia sang Co-Founder. Workshop digelar di Multifuntion Hall Kemenko 1, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, mulai 17 hingga 19 Juni.
“Jadi hari ini kita melakukan pengembangan batik, nanti selanjutnya tentu saja akan meningkat lagi dengan bagaimana membuat desainnya, bertahap, sampai kemudian akhirnya akan ada produk batik yang memiliki daya saing tinggi, mereka akan lebih kreatif, sehingga menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan juga tentu saja representatif untuk mewakili IKN sebagai kebutuhan wastra Nusantara,” terang Muhsin.
Sementara itu, sebagai upaya apresiasi, Otorita ke depan berencana memberi ruang menjadikan produk wastra ini sebagai buah tangan ketika ada kunjungan tamu.
“Jadi harapan kita seperti itu, jadi setelah mereka memiliki produk yang berkualitas, nanti tentu produk baru itu dapat diberikan sebagai cindera mata kepada tamu-tamu. Dan juga misalnya kepada para wisatawan. Mislanya nanti akan dibuatkan semacam tempat bagi mereka untuk ekshibisi produk-produk mereka sehingga nanti wisatawan bisa melihat dan tertarik dengan produk-produk mereka itu. Nah saya kira menarik juga ke depan seperti itu,” pungkasnya. (MK/SB)






