NUSANTARA — Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) segera membangun dua embung baru di kawasan 1B dan 1C, serta satu kolam retensi. Proyek tersebut saat ini memasuki tahap Pengumuman Prakualifikasi dalam proses tender Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE).
Total nilai tiga proyek ini mencapai 961.598.000.000 yang seluruhnya bersumber dari APBN murni Tahun Anggaran 2025–2027. Rinciannya, Embung 1B memiliki nilai pagu anggaran Rp331.571.000.000, Embung 1C Rp263.428.000.000, dan kolam retensi Rp366.599.000.000.
Pembangunan Embung 1B dan 1C dijadwalkan berlangsung selama 690 hari kalender, dengan masa pemeliharaan 365 hari setelah kontrak selesai. Sementara pembangunan kolam retensi memakan waktu 590 hari kalender, juga dengan masa pemeliharaan satu tahun.
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menjelaskan, pembangunan embung merupakan bagian dari konsep dasar pengembangan IKN sebagai forest city, smart city, dan sponge city.
Embung-embung ini berperan dalam meningkatkan resapan air, penampung air hujan, beautifikasi, menurunkan temperature lingkungan sekitar, serta untuk cadangan air baku yang dapat digunakan dalam melayani kebutuhan KIPP.
“Jadi itu konsep dasarnya. IKN ini dibangun menjadi kota cerdas yang berkelanjutan,” ucap Basuki.
Dengan semangat pengembangan IKN sebagai forest city itu, setidaknya ada prinsip yang ditetapkan. Mulai dari nol deforestasi, konservasi keanekaragaman hayati sampai pengelolaan hutan berkelanjutan.
Tata kelola sekaligus tata guna lahannya diperbaiki. Otorita IKN pun setiap waktu menggelorakan penanaman pohon sebagai misi menjadikan IKN kota hijau, dengan 75 persen kawasan hutan dipertahankan sebagai kawasan lindung.
“Jadi tidak benar kalau IKN disebut merusak hutan. Justru kami menghutankan IKN. Mempercantik alamnya. Anda bisa lihat, kan, di sekitar IKN ini banyak embung embung yang dibuat. Itu juga bagian bukti IKN ini juga memperhatikan keberlangsungan ekosistemnya. Ketersediaan airnya. Jadi benar-benar bisa berkelanjutan,” terangnya.
Pembangunan embung yang masih dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) itu di bawah Direktorat Sarana dan Prasarana Dasar. Satuan Kerja (Satker) Otorita Ibu Kota Nusantara.
Hingga saat ini, OIKN telah membangun sekitar 30 embung dari target 60 embung di IKN. Beberapa di antaranya berada di sekitar di RS Hermina Nusantara (2), Masjid Negara (1), Basilika (1), Sumbu Kebangsaan Barat (1), Taman Bhineka Tunggal Ika (1), lapangan Sentra Massa (2), dan kawasan Wanagama (1).
Salah satu embung yang terkenal adalah Embung Mochamad Basuki Hadimuljono (MBH) dengan kapasitas 66.000 meter kubik dan luas 28.150 meter persegi. Embung ini dilengkapi jalur jogging sepanjang 3 kilometer, dan baru-baru ini digunakan untuk acara penebaran ikan serta dialog bersama Alumni Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Kaltim bersama Basuki Hadimuljono,
Sebagian embung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dilengkapi Smart Water Management System untuk perawatan ruang terbuka hijau, termasuk sistem penyiraman otomatis berbasis sensor. (MK/SB)






