Selasa, Juni 25, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Penancapan Keris Pusaka Puncaki Peringatan ke-117 Perang Puputan Badung

DENPASAR – Penancapan Keris Pusaka oleh Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menjadi pemuncak Peringatan ke-177 Puputan Badung di Kota Denpasar. Dikemas dalam perpaduan Apel dan Maha Bandana Prasadha, di Kawasan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar, Rabu (20/9/2023).

“Ini merupakan semangat sebagai bangsa besar yang tidak pernah melupakan sejarah perjuangan para pendahulunya, marilah kita maknai nilai- nilai kepahlawanan para pejuang kita yang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat dijadikan inspirasi oleh generasi muda untuk mengisi pembangunan ini,” kata Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara.

Dia mengatakan, Perang Puputan Badung yang kita peringati saat ini didasari oleh peristiwa heroik Rakyat Bali, terutama dari Kerajaan Badung yang bertempur sampai titik darah penghabisan atau puputan melawan penjajah Belanda. Dimana, tanggal 20 september 1906 merupakan peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia bahwa segenap Rakyat Bali yang dipimpin oleh Raja Badung yakni I Gusti Ngurah Made Agung yang memiliki dedikasi dan idealisme tinggi berjuang dengan segenap jiwa raga dalam menjaga setiap jengkal tanah kelahiran.

Jaya Negara mengatakan, dalam Perang Puputan Badung itu terdapat sebuah bisama Mati Tan Tumut Pejah yang bermakna mati di medan perang, namun demikian perjuangan tidak pernah mati. Inilah yang menjadi sejarah Pemerintah Kota Denpasar dengan motto Pura Dhipa Bara Bhavana yang menekankan kewajiban pemerintah untuk mewujudkan kemakmuran masyarakat. Hal ini diaplikasikan pemerintah dalam program priroritas pengentasan kemiskinan dan mewujudkan kemakmurahan masyarakat.

“Peringatan ke-117 Perang Puputan Badung, khususnya bisama Mati Tan Tumut Pejah menjadi inspirasi dan edukasi bagi kita semua, bagaimana para panglingsir puri dan pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan. Dimana ini menjadi sepirit untuk memenuhi kewajiban dalam menjamin kesehatan masyarakat, memenuhi kebutuhan pendidikan dan lain sebagainya untuk kemakmuran masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Untuk rangkaian peringatan, diawali dengan Pembacaan Sejarah Singkat Puputan Badung yang terjadi pada Tahun 1906. Dimana, peperangan tersebut terjadi atas perlawanan sengit Rakyat Badung kepada Kolonialisme Belanda. Hal tersebut dipicu atas Hak Tawan Karang yang bertentangan dengan Belanda kala itu. Puncak peringatan ditandai dengan Inagurasi Puputan Badung yang bertajuk Kstryaning Bala Yudha. Diiringi Tabuh Balegajur, pementasan tersebut dikemas apik dengan menghadirkan beragam jenis Tari Baris yang menggambarkan prajurit dan kesiapsiagaan Rakyat Badung kala itu. Turut ditampilkan pula Kesenian Pencak Silat serta Busana Karnaval.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Panglingsir Puri Agung Satria Denpasar, AA Ngurah Oka Ratmadi, Panglingsir Puri Agung Pemecutan, AA Ngurah Putra Dharma Nuraga, Panglingsir Puri Agung Jrokuta, AA Ngurah Jaka Pratidnya serta panglingsir puri se-Kota Denpasar.  Hadir pula Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede bersama Anggota DPRD Kota Denpasar, Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana, Fokopimda Kota Denpasar, LVRI Kota Denpasar, Pimpinan OPD serta undangan lainya. (WIR)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER