Rupiah Rebound ke Rp17.229, Pengamat Sebut APBN Jadi Faktor Utama

JAKARTA — Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan Jumat (24/4/2026), didorong oleh sentimen domestik yang dinilai positif di tengah tekanan global.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp17.229 per dolar AS pada pukul 15.00 WIB. Angka ini menguat 57 poin atau sekitar 0,33 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS.

Penguatan tersebut dinilai tidak lepas dari pernyataan pemerintah mengenai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih solid menghadapi gejolak global, khususnya dampak konflik di Timur Tengah.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut faktor domestik menjadi pendorong utama pergerakan rupiah.

“Pemerintah mengatakan bahwa APBN saat ini dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat perang di Timur Tengah yang membuat harga komoditas energi melonjak,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, dikutip pada Minggu (26/4/2026).

Ia menjelaskan, meskipun harga minyak dunia berpotensi melampaui asumsi makro APBN 2026 yang berada di atas 100 dolar AS per barel, pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menahan dampaknya, termasuk menjaga harga energi bersubsidi. “SAL pemerintah yang kini nominalnya mencapai Rp 423 triliun belum terpakai sedikitpun untuk menghadapi tekanan belanja subsidi akibat kenaikan harga komoditas energi,” kata Ibrahim.

Cadangan tersebut dinilai menjadi bantalan fiskal penting apabila tekanan terhadap anggaran semakin meningkat, sekaligus menjaga target defisit tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dengan kemampuan APBN yang masih mampu melakukan efisiensi dan realokasi belanja-belanja ke sektor yang prioritas, pemerintah mengaku masih tenang untuk mengelola defisit APBN 2026 sesuai target di bawah 3% PDB, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam UU Keuangan Negara,” jelasnya.

Selain faktor fiskal, stabilitas rupiah juga ditopang langkah aktif Bank Indonesia dalam menjaga pasar keuangan. “Bank Indonesia menegaskan akan memaksimalkan seluruh bauran kebijakan moneter. Intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore NDF, pasar spot, serta pasar domestik DNDF ,” ungkap Ibrahim.

Bank sentral juga memperluas operasi moneter valuta asing, termasuk melalui transaksi berbasis yuan offshore, guna memperkuat stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal.

Meski demikian, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pasar. “Komentarnya meningkatkan kekhawatiran atas konflik AS-Iran yang berkepanjangan, yang dapat menyebabkan pasokan minyak melalui Timur Tengah terhenti,” sebut Ibrahim.

Situasi tersebut berpotensi memicu volatilitas di pasar energi global yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan mata uang, termasuk rupiah. Namun untuk saat ini, sentimen domestik dinilai masih cukup kuat dalam menopang penguatan mata uang Garuda.

 

Pewarta: M Adi Fajri

Editor : Nicha R

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER