JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan biaya produksi gula di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara produsen utama dunia. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada gula nasional.
Hal itu disampaikan Zulhas saat menjadi pembicara dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, untuk menghasilkan 1 kilogram gula, biaya produksi di Indonesia mencapai sekitar Rp15 ribu. Angka tersebut jauh lebih mahal dibandingkan Thailand yang hanya sekitar Rp4 ribu per kilogram dan Brasil sekitar Rp3.800 per kilogram.
“Kalau tebu kita, untuk menghasilkan satu kilogram gula biayanya sekitar Rp15 ribu. Sementara Thailand sekitar Rp4 ribu dan Brasil sekitar Rp3.800. Kenapa? Karena teknologi,” kata Zulhas.
Ia menilai kesenjangan biaya produksi tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian Indonesia masih membutuhkan lompatan inovasi, khususnya dalam pengembangan teknologi budidaya, varietas unggul, hingga efisiensi produksi.
Karena itu, Zulhas meminta perguruan tinggi mengambil peran lebih besar melalui riset dan inovasi yang dapat langsung diterapkan di lapangan.
“Kalau tidak dikerjakan oleh kampus, tidak mungkin kita bisa mengejar ketertinggalan itu,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan teknologi tidak hanya terjadi pada komoditas tebu, tetapi juga padi, jagung, peternakan hingga sektor perikanan. Indonesia, kata dia, masih bergantung pada bibit unggul dari luar negeri untuk sejumlah komoditas strategis.
“Sekarang bibit ikan yang canggih berasal dari Tiongkok. Jagung juga kita masih tergantung bibit impor. Kalau penelitian di kampus berjalan kuat, ketergantungan itu bisa kita kurangi,” jelasnya.
Selain sektor pangan, Zulhas juga menilai dukungan perguruan tinggi dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan nasional lainnya, termasuk pengelolaan sampah. Menurutnya, pemerintah membutuhkan inovasi teknologi yang dapat diterapkan mulai dari skala rumah tangga hingga pengolahan sampah berkapasitas besar.
Ia optimistis kolaborasi pemerintah dengan perguruan tinggi akan mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan nasional.
“Sekarang program penelitian di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berjalan sangat baik. Kalau ini terus diperkuat, kita akan lebih cepat mencapai swasembada pangan maupun energi,” pungkasnya. (MK/SB)






