TANGERANG SELATAN — Di antara tumpukan laporan sekolah dan rutinitas harian menyapa guru serta murid, Amir, Kepala SDN 03 Rawa Buntu, Tangerang Selatan, tak pernah membayangkan bahwa sebuah pelatihan akan mengubah cara pandangnya terhadap kepemimpinan pendidikan.
Ia mengira kegiatan Pelatihan Pembelajaran Mendalam termasuk Penguatan Manajerial untuk Kepala Sekolah akan berjalan seperti pelatihan-pelatihan formal yang pernah ia jalani. Ternyata, dugaannya jauh meleset.
“Tadinya saya pikir sama saja seperti pelatihan sebelumnya. Ternyata jauh di luar prediksi saya. Kegiatannya sangat menantang,” ujar Amir dengan mata berbinar, mengingat hari-hari awal mengikuti pelatihan.
Di dalam kelas pelatihan, Amir dan para Kepala Sekolah lainnya diminta melakukan hal yang jarang mereka lakukan, yakni menyusun konsep pembelajaran mendalam berdasarkan pengalaman hidup.
“Biasanya kita membuat perangkat pembelajaran secara standar. Tapi kali ini kami ditantang merancang pembelajaran dari perjalanan hidup,” katanya.
Tak hanya itu, peserta juga harus memikirkan inovasi sekolah, membangun kolaborasi, hingga merancang program unggulan yang bisa memperkuat karakter dan mutu pendidikan.
Tantangan berikutnya datang dalam bentuk Rencana Tindak Lanjut (RTL), sebuah komitmen nyata untuk diterapkan setelah pelatihan selesai. RTL ini bukan hanya untuk sekolah masing-masing, tetapi juga agar bisa ditularkan ke sekolah lain di sekitarnya.
Pelatihan ini dijalankan dengan pola in–on–in, yang oleh Amir disebut sebagai “ritme belajar yang memaksa Kepala Sekolah turun langsung ke akar.”
In pertama: 5 hari tatap muka yang intens
On: 1 bulan penuh praktik langsung di sekolah
In kedua: presentasi hasil program, lengkap dengan tantangan dan capaian
“Di sesi in kedua, kami mempresentasikan program-program yang sudah dijalankan selama fase on. Semua Kepala Sekolah membawa karya nyata,” ujar Amir.
Amir mengikuti pelatihan dalam Batch 4. Setiap batch memuat sekitar 20 Kepala Sekolah dari Tangerang Selatan.
“Kalau dihitung dari Batch 1 sampai Batch 5, berarti sudah sekitar 100 Kepala Sekolah yang mengikuti pelatihan ini,” katanya.
Ia melihat ini sebagai langkah besar untuk membangun ekosistem kepemimpinan pendidikan yang lebih kuat dan berkarakter.
Hasil pelatihan itu mulai terasa ketika Amir kembali ke sekolah. Pemahamannya tentang pembelajaran mendalam berubah total.
“Alhamdulillah, kami jadi lebih paham. Kami bisa memotivasi guru-guru, lebih semangat dalam menata dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembelajaran mendalam sejatinya diperuntukkan bagi siswa, namun Kepala Sekolah memegang peran krusial sebagai manajer perubahan.
“Kepala Sekolah itu tugasnya memberi arah, motivasi, pencerahan. Guru yang menjalankan pembelajaran mendalam untuk anak-anak,” tambahnya.
Apa yang awalnya ia kira sebagai program formal yang kaku berubah menjadi pengalaman transformatif. Pelatihan ini bukan hanya mengajarkan teori, tetapi membuka ruang refleksi, dialog, dan inovasi.
Dan bagi Amir, perubahan itu dimulai dari satu hal sederhana, keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Kisah Eni: Seleksi Ketat, Pembekalan Lengkap
Di sudut lain pelatihan, Eni, salah satu peserta BCKS Angkatan 1 dari Tangerang Selatan juga masih mengingat betul proses seleksi yang ia jalani.
“Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada Kemendikdasmen dan BGTK Banten. Seleksinya tidak mudah. Kami disaring administrasi lewat Ruang GTK, lalu tes substansi,” ungkapnya.
Dari banyak pendaftar, hanya 17 peserta dari Tangsel yang terpilih mengikuti pelatihan tersebut.
Menurut Eni, materi yang diberikan mencakup kompetensi personal, sosial, profesional, dan manajerial yang dilengkapi kunjungan kerja ke sekolah mentor.
“Kami menganalisis studi kasus nyata, berdiskusi langsung dengan Kepala Sekolah mentor, dan itu membuka wawasan kami tentang kepemimpinan yang adaptif,” tuturnya.
Pelatihan ini, lanjutnya, mempersiapkan calon Kepala Sekolah untuk menjadi pemimpin yang inovatif, responsif, dan siap menghadapi perubahan.
Bagi Amir, Eni, dan seluruh peserta BCKS, pelatihan ini bukan sekadar agenda tahunan. Program ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali peran Kepala Sekolah sebagai nakhoda yang menentukan arah masa depan pendidikan.
Apa yang mereka temui bukan rutinitas formal, melainkan perjalanan transformasi yang dimulai dari keputusan sederhana: berani keluar dari zona nyaman. (MK/SB)






