Sabtu, Juli 20, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tjok Bagus Pemayun: Bali Bisa Jadi Pintu Masuk Promosi ETNA ke Dunia

DENPASAR – Bali, yang telah menjadi lokomotif pariwisata nasional dengan kontribusi sekitar 40 persen kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, kini diharapkan menjadi hub promosi Ethnowellness Nusantara (ETNA) ke dunia internasional. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, dalam acara sosialisasi ETNA di Denpasar, Selasa.

ETNA didefinisikan sebagai sistem kebugaran yang berasal dari berbagai kelompok etnik di Nusantara, mencakup ramuan pijat, urut, olah fisik, dan olah batin yang telah dipraktikkan secara turun-temurun. “Wisatawan saat ini mencari keamanan, kenyamanan, kesehatan, dan kebugaran. ETNA dapat memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Tjok Bagus.

Menurut Tjok Bagus, kekayaan dan keanekaragaman ETNA dari berbagai daerah di Indonesia dapat diperkenalkan melalui Bali. Namun, wisatawan yang mencari pengalaman otentik akan tetap mengunjungi daerah asal ETNA tersebut. “Bali memiliki brand yang kuat dalam industri pariwisata, termasuk dalam wisata kesehatan,” tambahnya.

Jajang Gunawijaya, Ketua Indonesia Wellness Master Association (IWMA) dan Ketua Panitia Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF), menekankan pentingnya Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia untuk mempromosikan ETNA. IWTIF, yang akan digelar pada September 2023, akan menjadi ajang promosi ETNA di tingkat internasional. Festival ini sebelumnya digelar secara daring pada 2021 dan 2022 karena pandemi COVID-19, namun akan diadakan secara hibrid pada 2023.

“Kita memiliki ETNA dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Dengan kekayaan budaya ETNA, kita seharusnya dapat menjadi tuan di negeri sendiri,” kata Jajang.

Sementara itu, Yulia Himawati, Ketua Indonesia Wellness Spa Professional Association (IWSPA), berharap para trainer Ethnowellness Nusantara yang telah mengikuti ToT dapat mentransfer ilmunya kepada terapis spa di Bali. “Dengan terapi tradisional Bali, spa di Bali diharapkan menjadi tujuan wisata berkualitas tanpa stigma negatif,” pungkasnya. (tim/SB)

Editor: Agus Susanto

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER